Ekspor Rotan Naik, Kendala Tetap Ada

Kepala Dinas Indag Jabar, Hening Widiatmoko
Kepala Dinas Indag Jabar, Hening Widiatmoko

JABARTODAY.COM – BANDUNG — Beberapa tahun silam, pemerintah memberlakukan ekspor bahan baku rotan. Efeknya, industri rotan tanah air terpukul. Hal itu membuat pemerintah mencabut aturan ekspor bahan baku.

“Pencabutan aturan eskpor bahan baku rotan memang berdampak positif. Nilai ekapor naik. Pada 2014, ekspor rotan nasional sekitar 12 juta Dolar Amerika Serikat (AS). Tahun lalu, naik 57 persen menjadi 28,4 juta Dolar AS,” tandas Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Indag) Jabar, Hening Widiatmoko, pada sela-sela Ajang Festival Desain Rotan di Hotel Ibis Asia Afrika, Jalan Asia Afrika Bandung.

Widi, sapaan akrabnya melanjutkan, sejauh ini, Jabar menguasai 45 persen industri rotan nasional. Pasarnya, sevut Widi, masih di kawasan Asia, antara lain, Jepang, Hong Kong, Taiwan, dan beberapa negara ASEAN.

Meski ekspor mengalami kenaikan, ungkap ternyata, industri rotan masih memiliki sejumlah kendala. Di antaranya, kata Widi, dalam hal perolehan bahan baku.

Menurutnya, perlu adanya sejumlah upaya untuk menyikapi masalah ini. Misalnya, ucap, Widi, melakukan pembenahan tata niaga. “Sebaiknya, sentra-sentra industri rotan, yaitu Cirebon (Jabar) dan Gresik (Jatim) menjadi prioritas titik pasokan bahan baku rotan.

Soal ada tidaknya peluang membuka pasar ekspor baru, semisal Eropa, Widi berpendapat, sebenarnya industri rotan memilikinya. Akan tetapi, kata Widi, tidak mudah menembus pasar Eropa. Itu karena, terang Widi, Eropa menerapkan aturan yang sangat ketat, satu di antaranya echo furniture. (win)

Related posts