Deposito Masih Favorit Investasi

 

BANDUNG – Berinvestasi merupakan sebuah langkah positif dan menjadi bagian perencanaan masa depan. Sebenarnya, banyak instrumen investasi yang dapat menjadi opsi publik. Namun, sejauh ini, masih banyak kalangan masyarakat yang memiliki pemahaman kurang terhadap instrumen investasi pasar modal.

 

Umumnya, masyarakat lebih memilih dan menjadikan deposito sebagai instrumen investasi yang favorit daripada saham atau reksadana. Padahal, hasil survey Manulife Investor Sentiment Index (MISI) menunjukkan, imbal deposito lebih kecil daripada saham atau reksadana. “Itu sejalan dengan riset Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” tandas Director of Business Development PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Putut Endro Andanawarih, di Kantor Manulife, di Kantor Pemasaran Manulife Indonesia Cabang Bandung, Jalan Asia Afrika Bandung, Selasa (5/11).

 

Putut mengemukakan, riset OJK menunjukan, pemahaman masyarakat terhadap pasar modal masih rendah, yaitu 0,11 persen. Masyarakat, ucapnya, lebih mengenal bank yang cukup terkenal, yaitu sebesar 57,28 persen. Kemudian, lanjutnya, asuransi sebesar 11,81 persen, lembaga pembiayaan sejumlah 6,33 persen, pegadaian 5,04 persen, dan dana pensiun sebanyak 1,53 persen.

 

Di Indonesia, yang berpenduduk 240 juta jiwa, baru 52 juta jiwa yang benar-benar paham industri dan produk keuangan secara baik. Menurutnya, indeks iterasi keuangan masyarakat Indonesia belum tinggi, masih sekitar 21,8 persen.

 

Berdasarkan survey MISI terhadap 500 responden pada kuartal II 2014, ungkap dia, 81 persen responden lebih menyukai deposito. Sebanyak 21 persen lainnya, tambah dia, memilih saham sebagai instrumen investasi, dan 26 persen lainnya menjadikan reksadana sebagai alat berinvestasi. Akan tetapi, jika perbandingannya dengan kuartal sebelumnya, minat berinvestasi saham adalah tumbuh paling tinggi. Pertumbuhannya, sebut dia, mencapai 162,5 persen selama satu triwulan.

 

Putut berpendapat, kondisi itu terjadi karena adanya sentimen positif pada lingkungan sekeliling investor. Walau demikian, hal itu belum dapat menggeser popularitas deposito, yang bahkan menjadi andalan masyarakat sebagai dana pensiun.

 

Putut menyatakan, pada dasarnya, optimisme investor di Indonesia sangat tinggi. Indikatornya, ucap dia, terlihat pada indeks yang berada pada level 57 poin, lebih tinggi 9 poin daripada kuartal sebelumnya. Bahkan, Indonesia menjadi negara kedua teroptimistis setelah Filipina. “Juga, jauh melebihi rata-rata Asia yang hanya 24 poin,” katanya.

 

Akan tetapi, tukasnya, sentimen positif itu belum disertai keputusan investasi yang tepat. Pasalnya, jelas dia, pengetahuan masyarakat pada sektor tersebut masih minim. Instrumen investasi lain yang menjadi favorit masyarakat yaitu properti, semisal, kepemilikan rumah.

 

Melihat kondisi itu, Putut berpandangan, sebaiknya, masyarakat memiliki pemahaman produk investasi lain. Hal itu, tambah dia, dapat membuat masyarakat memiliki pilihan investasi lebih banyak. (ADR)

 

 

Related posts