BPJS TK Proyeksikan 86 Ribu TK BPU

BPJS NAKERJABARTODAY.COM – BANDUNG — Sesuai amanat undang undang, seluruh warga negara berhak memperoleh jaminan dan perlindungan sosial. Karenanya, pemerintah membentuk 2 Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), yaitu BPJS Tenaga Kerja (TK) dan BPJS Kesehatan (BPJSK).

Jika kaitannya dengan ketenagakerjaan, seluruh kalangan yang berhak memperoleh jaminan sosial itu tidak hanya mereka yang selama ini tercatat sebagai pekerja formal. Namun, pekerja informal atau pekerja bukan penerima upah (BPU) pun memiliki hak yang sama. “Karenanya, kami terus melakukan sosialisasi seluruh program mengingat 1 Juli 2015, BPJS TK beroperasi secara penuh,” tandas Kepala BPJS TK Jabar, Ajat Sudrajat, di tempat kerjanya, Jalan PHH Mustopha Bandung, Jumat (12/6).

Ajat mengatakan, khusus pekerja BPU, hingga Mei 2015, pihaknya mencatat, terdapat sekitar 39.605 orang. Proyeksi tahun ini, cetus dia, jajarannya memproyeksikan jumlah peserta TK BPU mencapai 86 ribu orang.

Sejumlah upaya dan strategi pun disusun. Salah satu upayanya, untuk menambah kepesertaan para pekerja BPU yaitu menyasar para pekerja informal. Adalah para loper surat kabar yang menjadi bidikannya. Untuk tahap awal, kata Ajat, pihaknya mencanangkan sebanyak 500 orang loper surat kabar menjadi kepesertaannya.

Mereka, jelas dia, memperoleh stilmulus kepesertaan selama tiga bulan pertama. Programnya, lanjut dia, ada 2. Yaitu, tambah Ajat, Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian. Ajat berpendapat, 2 program bagi ratusan loper surat kabar itu karena kalangan tersebut memiliki risiko yang cukup besar saat menjalankan profesinya.

Lalu, bagaimana iurannya pasca tiga bulan berikutnya? Ajat mengemukakan, para loper surat kabar itu tetap beriur secara kolektif. Itu karena, sahut dia, kalangan tersebut membentuk kelompok atau komunitas.

Secara simbolis, seru Ajat, pelaksanaan kepesertaan bagi para loper surat kabar itu bergulir pada Minggu (14/6) di Lapangan Tegallega Bandung. Dalam agenda itu pun, beber Ajat, pihaknya menggelar bazaar sembilan bahan pokok (sembako) murah. “Rencananya, kami menjual 4 ribu paket berharga Rp 110 ribu per paket. “Tapi, ada stimulus 50 persen sehingga masyarakat cukup membelinya senilai Rp 55 ribu per paket,” tutup Ajat. (ADR)

Related posts