
JABARTODAY.COM – BANDUNG — Selama 2017, pertumbuhan ekonomi nasional masih belum terlalu signifikan. Banyak hal yang membuat kondisi itu terjadi. Di antaranya, buying power masyarakat yang belum menguat.
“Mayoritas, kalangan pekerja yang memiliki kemampuan daya beli itu. Saat ini, daya beli belum terlalu membaik. Akibatnya, roda ekonomi belum bergerak secara signifikan,” tandas Ketua Dewan Pimpinan Provinsi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jabar, Dedy Wdijaja.
Diutarakan, sejumlah permasalahan masih menjadi kendala dunia usaha. Misalnya, dalam hal upah. Sebenarnya, kata dia, pihaknya berkeinginan dan selalu berusaha menetapkan upah yang wajar, bukan murah. Itu sangat berkaitan, jelasnya, dengan daya beli. Upah yang wajar, terangnya, dapat membuat daya beli masyarakat terjaga. Efeknya, roda ekonimi pun bergerak.
Sekretaris Umum BPP Apindo Jabar, Martin, menambahkan, jika daya beli menguat, tentunya, industri pun terdongkrak. Sejauh ini, katanya, industri menjadikan ritel sebagai salah satu ujung tombak peredaran dan penjualan produk. “Kalau daya beli masyarakat melemah, tentunya, imbasnya pada ritel. Produk tidak terjual. Dampaknya, sektor ritel drop dan secara otomatis manufaktur pun goyah karena produk tidak terjual. Jika tidak terjual, operasional industri mandek. Akibat terburuk, atop produkai dan PHK pun tidak terhindarkan,” paparnya.
Menurutnya, hingga kini, Indonesia memiliki kebergantungan sangat besar pada produk impor. Contoh, komponen telepon selular, seperti chasing, masih impor. Sementara untuk memperoleh produk impor, kata dia, saat ini tidaklah mudah. Otomatis, ketersediaan pun menipis dan imbasnya harga melejit. Jika harga menunggi, tentunya, memberatkan konsumen. Akibatnya, ulang Martin, barang tidak terjual.
Jika berkenaan dengan produk impor, jelas Martin, pastikan kerjasama dengan importir resmi dan legal. Lalu, sambungnya, perhatikan juga segi harga, apqkah kompetitif atau tidak.
Soal perkembangan ekonimi terkini, Martin berpendapat, sebaiknya, masyarakat, khususnya Jabar, tidak menyerah pada kondisi ini. Dia menegaskan, sudah saatnya bangkit. Di antaranya, mendukung program-program pemerintah.
Martin menganggap pemerintah melakukan sejumlah upaya, yang dampaknya terasa untuk jangka panjang, meski secara short terms (jangka pendek) efeknya belum terasa. “Ini ibarat ayam dan telur. Mau ekonomi stabil terlebih dahulu baru menghadirkan investor atau sebaliknya,” ucap Martin.
Mengenai kabar tutupnya sejumlah induatri pemintalan, Martin berpendapat, jika memang hql itu terjadi, tidak tertutup kemungkinan, permintaan turun. Dia, berpandanagn, selain anjloknya permintaan, ada faktor lainnya. Yaitu upah pekerja, ketersediaan bahan baku, yang mayoritas impor, dan lainnya. “Tapi, kami belum menerima informasi tutupnya sejumlah industri pemintalan,” pungkas Martin. (win)





