Home » Bandung Raya » Harga Elpiji Turun, Pedagang Ketar Ketir

Harga Elpiji Turun, Pedagang Ketar Ketir

elpijiJABARTODAY.COM – BANDUNG
Pada 1 Januari 2014, publik di negara ini dikejutkan oleh naiknya harga jual elpiji 12 kilogram. Kenaikan komoditi yang paling dibutuhkan kalangan rumah tangga dan juga pelaku usaha sektor makanan tersebut begitu tinggi.
 
Saat itu, harga jual elpiji melejit melewati angka Rp 125 ribu per tabung. Bahkan, ada pula yang harga jualnya mencapai Rp 150 ribu per tabung. Situasi itu menimbulkan banyak reaksi. Karenanya, berdasarkan imbauan dan desakan pemerintah, akhirnya, PT Pertamina merevisi kenaikan tersebut menjadi Rp 1.000 per kilogram.
 
Namun, ternyata, tidak seluruh pedagang langsung menerapkan harga baru itu. Pasalnya, sejumlah pedagang enggan mengalami kerugian cukup besar. Meski begitu, sepertinya, kerugian tetap membayangi para pedagang. Bagaimana tidak, apabila komoditas itu tidak habis, pedagang terpaksa menjual elpiji 12 kilogram sesuai harga baru.
 
Di Jalan Emong, memang, harga jual elpiji 12 kilogram senilai Rp 91.300 per tabung. Namun, berbeda dengan di Jalan Sudirman. Di lokasi itu, harga jual komoditi tersebut masih tinggi, sekitar Rp 130.000 per tabung.
 
Pedagang elpiji di Jalan Sudirman, Acong, mengaku terlanjut membeli elpiji 12 kilogram ketika kenaikannya 68 persen atau sebelum revisi. Pada Senin (6/1/2014), saya menjual sekitar 18 tabung. Sisanya masih 2 tabung. Tapi, saya menjualnya masih senilai Rp 130.000 per tabung,” tutur dia.
 
Sementara itu, dalam rilisnya, Ali Mundakir, VP Corporate Communication PT Pertamina, menjelaskan, sesuai Rapat Konsultasi Pemerintah dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), secara resmi, pihaknya merevisi kenaikan harga elpiji 12 kilogram menjadi sebesar Rp 1.000 per kilogram. Itu berarti, jelas Ali, rata-rata, harga jual setiap per tabung elpiji 12 kilogram Rp 14.200.
 
Itu berarti, mulai 7 Januari 2014 pukul 00.00, harga jual elpiji 12 kilogram para level agen Rp 89.000-Rp 120.100 per tabung bergantung pada lokasi. Dikatakan, pada rapat itu, ada penegasan bahwa PT Pertamina berkewenangan menetapkan harga Elpiji 12 kilogram. Karenanya, sesuai mekanisme korporasi yang tercantum dalam Peraturan Perundangan, lembaga BUMN itu mengajukan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2014.
 
Pengajuan itu berkaitan dengan proyeksi kerugian bisnis elpiji 12 kilogram naik menjadi 0,51 Milyar Dollar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 5,4 triliun. Angka itu asumsinya kurs senilai Rp.10.500 per Dollar AS. Hal itu, jelasnya, membuat proyeksi pertumbuhan profit melemah menjadi 5,56 persen. Sebelumnya, sebesar 13,17 persen.
 
Mengenai pasokan, Ali menegaskan, baik elpiji 12 kilogram maupun 3 kilogram, yang merupakan komoditi subsidi, kondisinya aman. Guna menjaga ketersediaan, Ali menyatakan, pihaknya meningkatkan pengetatan pengawasan. Selain itu, juga siap memberi sanksi tegas bagi para agen yang melanggar, utamanya, berkenaan dengan harga jual. Sanksi itu pun, imbuh dia, termasuk bagi para penimbun. Bentuk sanksinya berupa Pemutusan Hubungan Usaha (PHU). (VIL)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.