Home » Ekonomi » Kembangkan Tekstil, Jabar Timur Dibidik

Kembangkan Tekstil, Jabar Timur Dibidik

peta_jabarJABARTODAY.COM – BANDUNG

Besarnya potensi yang dimiliki Jawa Barat, sejauh ini belum tereksplorasi secara maksimal. Salah satu contohnya, di Jabar, terdapat sejumlah titik yang dapat menjadi kawasan industri, seperti di Jabar bagian timur, yakni Cirebon, Indramayu, dan Majalengka. Sejauh ini, titik yang menjadi sentra industri Jabar masih di wilayah barat, semisal Bekasi, Depok, Karawang, dan Purwakarta.

“Jabar bagian Timur memiliki daya tarik besar bagi para investor. Karenanya, kami berusaha mempromosikan Jabar Timur sebagai kawasan industri, yang memang menjadi salah satu agenda Pemerintah Provinsi Jabar,” ujar Kepala Badan Koordinasi dan Promosi Penanaman Modal Daerah (BKPPMD) Jabar, Dadang Masoem, usai pembentukan Asia Non-Woven Fabries Association (ANFA) Indonesia, di Bandung Convention Center (BCC), Selasa (17/12).

Dadang mengatakan, salah satu sektor yang berpotensi berkembang di Jabar Timur, yaitu manufaktur. Bidangnya adalah tekstil dan produk tekstil (TPT). Menurutnya, hal itu karena ada beberapa hal. Diantaranya, di Jabar Timur, segera berdiri Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB), Kertajati Aerocity. Kemudian, sambungnya, adanya rencana pembangunan ruas tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu), yang kini terus menunjukkan progress pembangunannya.

Berkenaan dengan peluang industri tekstil pada 2014, Dadang menilai sebagai salah satu sektor yang masih terbuka dan menarik bagi para investor. Hal itu, jelasnya, berdasarkan posisi sektor TPT yang menjadi kontributor terbesar ketiga investasi, baik Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) setelah industri logam-elektronik-mesin dan karet-plastik.

Diutarakan, selama 5 tahun, yaitu periode 2008-2012, total investasi PMA dan PMDN di Jabar mencapai Rp 206,88 triliun. Investasi terbesar, sambungnya, yaitu manufaktur, yang mendominasi 70.26 persen atau mencapai Rp 145,36 triliun. “Sisanya, sektor primer, seperti tanaman pangan, peternakan, perkebnan, dan pertambangan, sebesar 0,35 persen dan tersier 29,39 persen,” sahutnya.

Khusus manufaktur, tambahnya, investasi pada sektor TPT mencapai Rp 18,1 triliun. Investasi tertinggi yaitu, sebutnya, industri logam-mesin-elektronika sejumlah Rp 57,99 triliun. Kemudian, lanjutnya, industri karet-plastik, senilai Rp 21 triliun. “Setelah TPT, industri kimia dan farmasi, investasinya Rp 11,66 triliun. Selanjutnya, industri makanan senilai Rp 10.83 triliun,” ucapnya.

 

Ketua Kamar Dagang dan Industri Jabar Agung Suryamal Soetisno sependapat, bahwa Jabar Timur merupakan kawasan yang cukup tepat sebagai kawasan industri. Hal itu, imbuhnya, merupakan sebuah upaya untuk mendorong kinerja industi TPT Jabar, yang bermuara pada terciptanya laju pertumbuhan ekonomi Jabar. Untuk itu, ungkap Agung, pihaknya berusaha untuk mempromosikan Jabar Timur kepada para investor, tidak hanya domestik, tetapi juga mancanegara.

Menurutnya, ada upaya lain untuk menjaga sekaligus meningkatkan kinerja industri TPT Jabar. Yaitu, jelas Agung, para pelaku industri TPT di Jabar tidak ada salahnya mengadopsi teknologi yang dikembangkan Cina. “Hal itu untuk lebih mendukung produktivitas industri TPT Jabar,” tutup Agung (VIL)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.