Home » Ekonomi » Minat Berwiraswasta Orang Indonesia Masih Rendah

Minat Berwiraswasta Orang Indonesia Masih Rendah

agung laksono-2JABARTODAY.COM – BANDUNG

Di banyak negara maju, kehadiran para wirausahawan menjadi unsur penting dalam menggerakkan roda ekonomi. Mayoritas negara maju persentase pelaku wirausaha mencapai angka ideal, yaitu 2 hingga 4%. Namun, di Indonesia, sejauh ini masih minim.

         
Menurut Menteri Koordinasi Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat persentase pelaku wirausaha di tanah air, ialah masih kecilnya minat para lulusan lembaga pendidikan, baik sekolah maupun jenjang akademi dan perguruan tinggi.
         
“Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, minat berwirausaha para lulusan lembaga pendidikan rendah. Untuk lulusan SMA, sebesar 22,63 persen. Sedangkan lulusan perguruan tinggi, lebih rendah lagi, yaitu 6,14 persen,” ujar Agung, saat berorasi ilmiah pada Sidang Terbuka Senat Universitas Langlangbuana Bandung, Sabtu (23/11).
         
Dalam acara yang berbarengan dengan agenda Dies Natalies ke-31 Universitas Langlangbuana itu, Agung meneruskan, rendahnya minat tersebut karena para lulusan lembaga pendidikan lebih cenderung menjadi pekerja atau pegawai. Tercatat, generasi muda lulusan SMA yang cenderung ingin bekerja mencapai 61,88%. Sementara kalangan sarjana yang memilih menjadi pekerja, lebih banyak lagi, 83,20%.
         
Padahal, ujar dia, pilihan menjadi pekerja bukan perkara mudah. Selain harus bersaing dengan para pencari kerja dalam negeri, saat ajang ASEAN Economic Community (AEC) bergulir 2015, persaingan ketenagakerjaan makin ketat. Itu karena, terbuka kemungkinan pekerja asal negara-negara ASEAN bekerja di Indonesia.
         
Meski demikian, lanjut Agung, para lulusan lembaga pendidikan tidak perlu khawatir dan pesimis. Sebaliknya, sahut Agung, perkembangan era pasar bebas tersebut menjadi pelecut karena dapat menjadi sebuah peluang. “Agar dapat bersaing, butuh semangat tinggi. Selain itu, kunci lainnya yaitu kreativitas dan inovatif,” imbuh Agung.
         
Saat AEC bergulir, tambahnya, sektor jasa memberi peluang pekerjaan yang cukup terbuka. Pasalnya, terang dia, dalam era perekonomian modern, kebergantungan pada sektor jasa cukup besar. Dikarenakan sektor itu dapat menjadi trigger berbagai aktivitas ekonomi. “Di berbagai negara maju, sektor itu (jasa) berkontribusi cukup besar dalam hal mendorong produk domestik bruto. Juga dalam hal penyerapan tenaga kerja,” papar politisi Partai Golkar itu.
         
Begitu pula dengan negara berlevel menengah. Sektor jasa turut berperan penting sebagai engine roda ekonomi, yang satu diantaranya, penyedia lapangan kerja. Data Bank Dunia, ungkap Agung, menunjukkan, pada 2012, jasa berkontribusi 63,6% pada pencapaian GDP dunia. “Sektor industri berkontribusi 30,5 persen. Lalu agriculture sebesar 5,9 persen. Di Indonesia, kontribusi jasa sebesar 38,6 persen pada pembentukan GDP nasional. Sektor industri 47 persen, dan agriculture 14,4 persen,” urai Agung.  (VIL)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.