Home » Ekonomi » IKM Jabar Kritis, Produksi Sektor TPT Drop

IKM Jabar Kritis, Produksi Sektor TPT Drop

kadin kota bandungJABARTODAY.COM – BANDUNG

Pada triwulan III tahun ini, sektor industri kecil dan menengah (IKM) Jawa Barat patut mendapat perhatian, khususnya, yang bergerak pada bidang tekstil dan produk tekstil (TPT). Pasalnya, pada periode tersebut, sektor itu mengalami perlambatan pertumbuhan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar, menunjukkan, secara umum, produk IKM Jabar turun 7,29% lebih rendah daripada periode April-Juni 2013. Padahal, kinerja produksi IKM Jabar April-Juni 2013 lebih tinggi 9,36% daripada Januari-Maret 2013. Tentunya, situasi ini harus mendapat perhatian serius mengingat di Jabar terdapat sekitar 8,3 juta pelaku usaha mikro, kecil (UMK). Selain itu, 80% industri TPT skala mikro, kecil, menengah, dan besar nasional berlokasi di Tatar Pasundan.

BPS menyatakan, sekitar 15 di antara 22 jenis produk IKM Jabar yang tumbuh melambat pada Juni-September 2013. Antara lain, industri makanan, minuman, kulit, barang kulit, alas kaki, percetakan, bahan kimia, karet beserta turunannya, logam dasar, furnitur, dan industri pengolahan lainnya. Yang paling tinggi, yaitu IKM sektor TPT. Pertumbuhan sektor tekstil melemah 10,27%.

Masih berkaitan dengan tekstil, pertumbuhan industri pakaian jadi pun melemah signifikan, sekitar 14,65%. Dari Graha Kamar Dagang dan Industri Kota Bandung, Jalan Talagabodas 31, Tim Kelompok Kerja Dewan Pengembangan Ekonomi Kota Bandung, Ishak Soemantri, menambahkan, posisi produk UMKM Jabar kian mengkhawatirkan. Pasalnya, jelas Ishak, produk-produk itu harus bersaing ketat dengan produk impor asal berbagai Negara, utamanya, Cina, yang harganya, mayoritas jauh lebih murah.

Dia berpendapat, pasca kesepakatan ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA), UMKM Jabar kian kritis. Itu terjadi seiring dengan membanjirnya produk Cina. Padahal, sahutnya, secara kualitas, produk UMKM punya daya saing. Hal ini perlu perhatian pemerintah. Terlebih, ucap Ishak, pada 2015, persaingan kian ketat, seiring dengan berlakunya perjanjian ASEAN Economic Community (AEC) pada 2015. (VIL)

Komentar

komentar