Home » Ekonomi » Tahun Depan, Industri Otomotif Berpotensi Melambat

Tahun Depan, Industri Otomotif Berpotensi Melambat

ToyotaJABARTODAY.COM – BANDUNG

Menjelang akhir 2013, perkembangan ekonomi global sedikit berguncang. Salah satunya disebabkan terjadinya krisis di Amerika Serikat beberapa waktu lalu. Saat itu, pemerintah negeri Paman Sam melakukan shutdown yang berbuntut pada penon-aktifan para pegawai negerinya.

Situasi itu berefek pada perekomian dunia. Hal itu pun dirasakan Indonesia. Dalam perkembangannya, nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS pun melemah. Bank Indonesia pun melakukan berbagai langkah antisipasi. Diantaranya, meminta lembaga-lembaga perbankan untuk mengerem likuiditas kreditnya, terutama, yang bersifat konsumtif, semisal kredit kendaraan bermotor.

Sejumlah pelaku industri memperkirakan, tahun depan, situasinya tidak lebih baik daripada 2013. “Saya kira, situasi yang terjadi saat ini memang cukup berefek pada industri, termasuk otomotif,” ujar Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor Tbk. Johnny Dharmawan, usai meresmikan pengoperasian outlet Auto 2000 Rancaekek, Jalan Raya Rancaekek Kabupaten Bandung, Jumat (1/11).

Johnny berpendapat, kondisi ekonomi pada 2014 tergolong berat dan tidak seperti tahun ini. Itu karena, jelasnya, hampir seluruh sektor ekonomi pesimis. Selain itu, pemerintah juga mencanangkan pertumbuhan ekonomi sekitar 6 persen yang artinya, lebih rendah daripada tahun ini. “Tidak itu saja, stabilnya nilai tukar rupiah pun berpengaruh. Saya kira, kurs rupiah terhadap Dollar AS pun, pada 2014, sulit untuk berada pada level di bawah Rp 9.000 per Dollar AS,” papar Johnny.

Karenanya, Johnny memperkirakan, tidak tertutup kemungkinan, pasar otomotif nasional pada tahun depan, mengalami perlambatan pertumbuhan. “Paling tidak, sama dengan tahun ini,” imbuh Johnny.

Soal pengetatan likuiditas kredit konsumtif, seperti kredit kendaraan bermotor, Johnny menjelaskan, sebenarnya, pengetatan pembiayaan untuk otomotif memang diperketat. Tujuannya, sahut Johnny, untuk menekan kredit macet. “Tapi, sejauh ini, kredit macet khusus produk kami, tidak ada masalah,” klaim Johnny.

Memang, seru dia, efek pengetatat kredit dapat terjadi. Meski demikian, kata Johnny, pertumbuhan pasar otomotif memang ada. Apalagi, ungkapnya, Indonesia menjadi salah satu pasar otomotif dunia yang potensial. “Khusus Toyota, Indonesia menempati posisi 5 besar pasar dunia, setelah AS, Jepang, Cina, dan Thailand. Selama tahun ini, penjualan Toyota secara nasional sekitar 253 ribu unit. Saya kira, jika kondisi ekonomi membaik, pada 2017, pasar Toyota Indonesia dapat menggeser Thailand,” urai Johnny.

Untuk meningkatkan pasar tersebut, cetusnya, pihaknya terus meningkatkan jaringan. Hingga akhir tahun, kata Johnny, pihaknya siap menambah jaringan outlet menjadi 260 unit. Sejauh ini, total outlet Toyota di Indonesia sebanyak 256 unit.

Di tempat yang sama, Chief Executive Auto 2000, Suparno Djasmin, menambahkan, outlet Auto 2000 Rancaekek merupakan yang ke-174. Menurutnya, pihaknya membuka outlet itu karena kawasan Kabupaten Bandung merupakan pasar potensial.

“Hingga September 2013, pertumbuhan otomotif di Kabupaten Bandung sebesar 17,9 persen. Ini melebihi pertumbuhan nasional sebesar 12,8 persen.Volume penjualannya, total 14.419 unit. Sedangkan periode sama 2012, sejumlah 11.843. Kami (Toyota) berhasil merebut pasar 32,1 persen,” tutup Suparno. (VIL)

Komentar

komentar