Home » Ekonomi » Bea Masuk Impor 0 Persen Belum Maksimal

Bea Masuk Impor 0 Persen Belum Maksimal

kedelaiJABARTODAY.COM – BANDUNG

Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk menekan sejumlah komoditi impor, salah satunya dengan menetapkan bea masuk impor 0% kacang kedelai. Akan tetapi, kenyataannya, upaya pemerintah tersebut tidak berefek. Itu karena sejauh ini, harga jual kedelai pada level perajin masih tergolong mahal.

“Iya. Harga jual kedelai memang masih mahal sampai sekarang. Rata-rata, harganya Rp 8.900 per kilogram,” ujar perajin tahu kawasan Sentra Tahu Cibuntu, Lilis, Selasa (22/10).

Kalangan perajin, diutarakan Lilis, mengaku heran mengapa harga kedelai masih mahal. Padahal, sambungnya, pemerintah sudah melakukan pembebasan bea masuk impor kedelai. “Logikanya, harga jual kedelai turun. Tapi, yang terjadi, harganya masih mahal. Harapannya, harga kedelai kembali normal, yaitu sekitar Rp 5.700-6.000 per kilogram,” lanjut Lilis.

Akibat kondisi tersebut, produksi tahu-tempe belum normal serta stabil. Dalam kondisi saat ini, ucapnya, pihaknya hanya dapat mencatat produksi sejumlah 200 kilogram per hari. “Pada saat harga masih normal, produksi mencapai 350 kilogram per hari,” sebut Lilis.

Lilis menambahkan, hal lain sebagai efek masih mahalnya kedelai yaitu turunnya permintaan. Situasi tersebut membuat tidak sedikit perajin kedelai yang mengurangi volume produksinya.

Keterangan Lilis diperkuat oleh pernyataan Ketua DPD Koperasi Perajin Tahu Tempe Indonesia Jawa Barat, Asep Nurdin. Dia mengakui bahwa sejauh ini, harga kedelai masih cukup tinggi. “Kami tidak yakin harga kedelai turun meski pemerintah membebaskan bea impor kedelai. Idealnya, jika bea masuk impor kedelai 0 persen, harga komoditi itu turun Rp 1.000 per kilogram,” paparnya.

Menurutnya, situasi dan perkembangan harga kedelai tersebut terjadi karena pihak yang menentukan harga jual kedelai adalah importir.  Apabila importir belum menurunkan harga, secara otomatis, harga jual kedelai masih mahal. Akan tetapi, tukasnya, harga kedelai pada tingkat importir senilai Rp 8.400 per kilogram. “Itu membuat harga kedelai pada level perajin menjadi sekitar Rp 9.000 per kilogram,” tuturnya.

Asep berpendapat, pembebasan bea masuk dapat mengancam petani kedelai lokal. Pihaknya, sahut Asep, mengkhawatirkan perkembangan harga kedelai di Amerika Serikat. “Jika harga di Amerika turun, itu berdampak pada harga jual di Indonesia. Turunnya harga kedelai di sana dapat mematikan kedelai lokal karena harga jualnya (kedelai lokal) dapat sangat rendah,” urai Asep.

Bahkan, dirinya memandang, tidak tertutup kemungkinan, kebijakan pembebasan bea masuk kedelai pun dapat menjadi trigger bermunculannya kartel-kartel kedelai baru. “Itu bisa terjadi. Cukup bermodalkan Rp 50 miliar, siapa pun dapat menjadi importir kedelai,” imbuh Asep.

Karenanya, KOPTI berkeinginan pemerintah melalui Bulog dapat berperan besar untuk menjadi penyeimbang. Jika itu terjadi, ucapnya, strategi pengendalian harga kedelai dapat terwujud. (VIL)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.