Home » Ekonomi » Armada Angkutan Pelabuhan Butuh Penambahan 250 Persen

Armada Angkutan Pelabuhan Butuh Penambahan 250 Persen

peti kemasJABARTODAY.COM – BANDUNG

Ketersediaan sarana infrastruktur memang dapat menunjang aktivitas, termasuk sektor ekonomi. Karenanya, jajaran Kamar Dagang dan Industri Jawa Barat merespon rencana pembangunan Pelabuhan Cilamaya, Karawang, secara positif.

Seperti diutarakan Ketua Kadin Jabar, Agung Suryamal Soetisno, melihat tingkat kebutuhan dan perkembangan serta pertumbuhan ekonomi, sebaiknya pemerintah segera merealisasikan rencana pembangunan tersebut agar dapat membantu sistem distribusi dan juga perdagangan luar negeri.

“Cilayama penting bagi ekonomi Jabar. Sekitar 60-70 persen arus barang atau peti kemas dari dan ke pelabuhan Tanjung Priok dari Jabar, seperti Bekasi, Karawang, Subang, dan Cikampek. Kami kira, pelabuhan dapat mendongkrak produktivitas ekonomi nasional, utamanya, Jabar, termasuk efisiensi biaya logistik. Itu pun sesuai UU No. 17/2008 tentang Pelayaran,”  papar Agung di Sekretariat Kadin Jabar, Kawasan Surapati Core, Jalan PHH Mustopha Bandung, Senin (9/9).

Kadin Jabar sendiri mencatat, pada tahun 2012 volume peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok mencapai 6.445.000 TEUs. Angka itu, jelas Agung, melebihi tahun sebelumnya, yang jumlahnya 5.918.000 TEUs. “Tiap tahun, kami prediksi, kenaikan pengiriman peti kemas di Tanjung Priok sekitar 1 juta TEUs,” sambungnya.

Akan tetapi, lanjutnya, ada hal lain yang perlu mendapat perhatian, yaitu akses jalan, sarana dan prasarana di kawasan Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi-Karawang kurang mendukung sistem transportasi dan distribusi arus peti kemas, yang sejauh ini, berlangsung di Terminal Peti Kemas Pelabuhan Tanjung Priok.

Diperkirakan, arus distribusi peti kemas di Tanjung Priok sangat mungkin terus bertambah. Saat ini, sebutnya, berada pada posisi 6.445.000 TEUs. “Prediksi kami, pada 2025, naik menjadi  25 juta TEUs,” nilai Agung.

Saat itu, imbuhnya, dibutuhkan armada yang memadai. Agung menyatakan, setidaknya, butuh 70 ribu armada. Artinya, terang dia, pada 2025, agar melancarkan distribusi peti kemas, jumlah armadanya lebih banyak 250% daripada saat ini, yang jumlahnya sekitar 20 ribu armada. “Tentunya, kebutuhan 70 ribu armada itu dapat menyebabkan permasalahan baru, seperti kemacetan. Itu membuat terjadinya inefisiensi, seperti pemborosan konsumsi BBM. Karenanya, ini harus menjadi pemikiran pemerintah,” tutup Agung. (VIL)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.