
“Kondisi tersebut berbeda dengan 2015. Tahun lalu, masa produksi lebih lama, yaitu melebihi 5 bulan,” tandas Taifik, belum lama ini. Melihat kondisi itu, Taufik memperkirakan, produksi garam Jabar berpotensi turun. “Tahun lalu, produksi mencapai 300 ribu ton. Perkiraannya, tahun ini, tidak melebihi 200 ribu ton,” tuturnya.
Dia berpendapat, selain cuaca, ada hal lain yang menjadi faktor turunnya produksi garam tahun ini. Yaitu, ujarnya, alih fungsi lahan. Di Kabupaten Cirebon, tukasnya, areal tambak garam sebetulnya tergolong luas.
Akan tetapi, terjadi pengurangan luas areal. Pasalnya, bebenya, sejumlah areal tambak garam di Cirebon tidak lagi berproduksi akibat kini lahannya menjadi titik pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
Kendati demikian, sambungnya, ternyata, produksi garam lokal Jabar tahun lalu belum terserap seluruhnya. Menurutnya, sekitar 60 ribu ton garam produksi petani lokal Jabar, yang tersebar di Indramayu dan Cirebon, belum terserap. Taufik menyatakan, walau penyerapan belum seluruhnya, sisa garam hasil produksi 2015 tersebut dapat menutupi kebutuhan tahun ini. (ADR)





