Tuesday , 31 March 2020
Home » Opini » Sembelihlah Anakmu!

Sembelihlah Anakmu!

Komaruddin Hidayat, Cendekiawan Muslim

Terdapat kisah dalam kitab suci Alqur’an dan Bibel, bahwa Nabi Ibrahim diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya yang amat sangat dicintainya. Sebuah kisah yang sulit diterima nalar. Umat Islam meyakini yang dimaksud putra laki-laki itu adalah Ismail, sedangkan versi Kristiani adalah Ishak. Namun akhirnya, atas perintah Tuhan, peristiwa penyembelihan itu diurungkan lalu digantikan dengan menyembelih kambing kibas yang gemuk dan sehat.

Kalau saja cerita itu tidak terdapat dalam kitab suci, hati dan pikiran saya sulit menerimanya. Tuhan yang saya yakini dan sembah adalah tuhan yang maha pengasih, bukan tuhan yang haus sesaji darah manusia. Tuhan yang saya imani adalah tuhan yang menjunjung tinggi nilai dan eksistensi kemanusiaan, apapun latar belakang etnis dan agamanya karena sesungguhnya semesta seisinya ini adalah ciptaanNya dan hadir atas kehendakNya.

Lalu, apa dan siapa yang disembelih? Kisah dramatis Ibrahim, isteri dan anaknya seputar penyembelihan anak yang kemudian dibatalkan oleh Tuhan dikisahkan kembali dalam Alqur’an tentu mengandung pesan buat kita semua, apapun agama dan bangsanya.

Bayangkan, Ibrahim yang sudah berusia lanjut belum juga diberi anak. Setiap malam Ibrahim berdoa semoga mendapatkan keturunan, sampai-sampai Sarah turut sedih dan haru mendengarkan rintihan doa suaminya, sehingga Ibrahim diijinkan menikahi Hajar perempuan berkulit hitam sebagai isteri keduanya, semoga bisa memberikan keturunan. Rupanya Tuhan mengabulkan doanya, sehingga ketika lahir anak lekaki itu diberi nama Ismael, Allah mendengarkan dan mengabulkan doanya.

Singkat cerita, begitu lahir, Tuhan menyuruh Ibrahim dan Hajar meninggalkan kampungnya di wilayah Israel hari ini menuju Makkah yang waktu itu merupakan padang pasir gundul dan gersang. Sesampai di Makkah, Hajar dan Ismail ditinggal. Hati Ibrahim dan Hajar merasa sangat sedih dan pilu, namun mesti dilakukan semata mengikuti perintah Tuhan. Lagi-lagi, kalau saja bukan cerita kitab suci, nalar sulit menerima cerita ini. Bagaimana mungkin anak laki yang sudah lama didambakan kehadirannya lalu diterlantarkan di tanah gersang bersama isterinya.

Begitulah, ketika Ismail menginjak usia 14 tahun, Ibrahim datang ke Makkah untuk melepas rindu melihat anak dan isterinya. Betapa bahagianya ketika menjumpai Ismail sudah tumbuh menginjak dewasa dengan badannya yang tegap dan tampan. Namun lagi-lagi ujian Tuhan belum berakhir, justeru kali ini datang lebih besar dan mengharu-biru iman dan perasaan. Yaitu lewat mimpi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih Ismail. Terjadilah kegoncangan dan gejolak jiwa Ibrahim. Lalu dia sampaikan perintah itu kepada Hajar dan Ismail. Mereka pun ragu akan kesahihan perintah itu. Tetapi ternyata perintah itu berulang lagi sampai tiga kali sehingga Ibrahim, Hajar dan Ismail menjadi yakin bahwa itu memang perintah Tuhan.

Sungguh luar biasa, di luar jangkauan nalar pada umumnya, Ibrahim, Hajar dan Ismail menyatakan siap dan mantap untuk melaksanakan perintah itu sehingga proses drama eksistensial penyembelihan Ismail segera dimulai.
Singkat cerita, ketika semua tahapan sudah dilalui dan sampai pada menit-menit akhir untuk eksekusi, tiba-tiba datang perintah Tuhan agar penyembelihan Ismail dibatalkan, diganti dengan menyembelih hewan domba yang ada di dekat Ismail. Lalu dagingnya dimasak dan dimakan dengan penuh rasa syukur, tanda telah lulus dari ujian yang amat dahsyat. Rupanya yang diminta Tuhan itu bukan menyembelih fisik putranya, melainkan agar Ibrahim menyembelih berhala yang bertengger di hati, yaitu sikap mempertuhankan anak, harta dan dunia.

Apa pesan moral kisah ini? Tentu tiap pembaca bebas menafsirkannya. Ibrahim itu representasi sosok seorang pemimpin yang dikenal sebagai Bapak tiga agama besar dunia, Yahudi, Kristen dan Islam. Dia juga memiliki gelar kekasih Tuhan. Seakan Tuhan hendak menguji dan mendidik kekasihNya, agar cintanya tidak beralih dan bergeser pada anak dan dunia. Anak adalah kristalisasi obyek kecintaan duniawi.

Kisah ini juga mengandung pesan, siapapun jadi pemimpin, dari tingkat Presiden sampai Camat, hendaknya hati-hati menyikapi godaan anak dan harta. Jangan sampai kecintaannya pada mereka lalu melupakan kecintaanya pada Tuhan, pada kebenaran dan pada rakyat. Sejarah mengajarkan, sosok pemimpin yang tidak hati-hati menghadapi godaan anak bisa jatuh reputasinya. Alqur’an (8:25) mengingatkan bahwa harta dan anak itu disebut “fitnah”. Sebuah ujian berat bagi kita semua. ***