Saturday , 30 May 2020
Home » Nasional » Bonus Demografi, Pemuda Perlu Kolaborasi Ideologis

Bonus Demografi, Pemuda Perlu Kolaborasi Ideologis

JABARTODAY. COM-JAKARTA.  Merial Institute beraudiensi dengan Kepala Badan Kependudukan dan Keluaga Berencana (BKKBN) Nasional Hasto Wardoyo di Halim Perdanakusuma Jakarta Timur, Senin (9/3/2020) membahas tentang perkembangan wacana Indonesia dalam menyambut bonus demografi dan peran strategis pemuda dalam upaya pencapaiannya.

Direktur Eksekutif Merial Institute Arief Rosyid Hasan menjelaskan, pihaknya telah berinteraksi dengan berbagai anak muda dari berbagai daerah di 350 Kabupaten/Kota se-Indonesia menemukan fakta bahwa masalah pemuda adalah kesenjangan baik dalam hal ekonomi, kultur, pendidikan, akses informasi dan sebagainya.

Mengurangi kesenjangan tersebut, Merial Institute memfokuskan kegiatannya pada pemberdayaan pemuda, mulai dari pemuda urban, rural, mahasiswa, pelajar,  pemuda berbasis rumah ibadah dan di lembaga permasyarakatan.

“Kami telah melakukan berbagai inisiatif kolaborasi sebagai upaya akselerasi dalam mengurangi gap itu, potensi pemuda sebesar ini harus dikelola dengan baik dan serius,” ungkap Arief.

Direktur Riset Merial Institute Muhammad Fadli Hanafi mengungkapkan, fenomena perlambatan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di saat Indonesia masuk pada “aging population” seharusnya dapat menjadi pendorong bagi semua pihak untuk terus meningkatkan kapasitas dan kualitas anak muda, khususnya dalam rangka mengoptimalkan bonus demografi.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengungkapkan,  peran pemuda untuk menjawab tantangan bonus demografi yang terpenting ialah revolusi cara berpikir yang berbasis kepada ideologi.

“Mindset itu penting, kalau kita mau akselerasi itu yang paling cepat adalah merubah mindset. Itu paling murah (namun strategis dan mendasar). Kalau mau revolusi itu, harus change your mindset. Inovasi itu nggak ada seperseratusnya revolusi,” tuturnya.

Pihaknya juga  melihat kesenjangan yang paling terlihat terjadi di sektor pendidikan. Di daerah, pendidikan ketika hari ini angka partisipasi sekolah itu 8,2%. Ada yang S3, di sisi lain yang belum lulus SD juga banyak.

“Gerakan yang paling cepat: upskilling itu penting. Kita kembali ke sekolah untuk mendongkrak adanya kesenjangan pendidikan. Misalnya sekolah penyetaraan, mungkin dengan penyetaraan ini Human Development Index kita akan meningkat, sehingga kita fokus kepada bidang apa yang mau diintervensi.” imbuhnya.

Kepala BKKBN juga memberikan penegasan bahwa gerakan anak muda, juga perlu ditekankan kepada kolaborasi ideologis yang holistik, tidak hanya kolaborasi pemuda yang teknoratis, sehingga ada sifat revolusioner di dalamnya. Karena menurutnya, jika kolaborasi berbasis ideologi dan berbasis teknologi, bonus demografi akan menjadi pondasi kemajuan bangsa dan negara. (ruz).