
Oleh: Abu Jundy Al Bantany *
*penulis adalah pengamat sosial dan kebijakan publik
Kita hidup di zaman yang berbeda dari generasi sebelumnya. Kalau dulu orang diuji dengan lisan, hari ini kita diuji dengan jempol. Kalau dulu gosip berhenti di warung, hari ini satu postingan bisa menyebar ke ribuan orang dalam hitungan detik. Dan di sinilah Ramadhan menjadi sangat relevan.
Puasa Bukan Hanya Menahan Lapar, Tapi Menahan Timeline
Allah berfirman:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ … لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (QS. Al-Baqarah: 183) Tujuan puasa adalah takwa.
Takwa artinya sadar bahwa Allah melihat kita. Bukan hanya saat kita shalat. Bukan hanya saat kita di masjid. Tapi juga saat kita mengetik komentar.
Coba kita jujur: Berapa kali kita lebih cepat mengetik daripada berpikir? Berapa kali kita share sesuatu tanpa cek kebenarannya? Berapa kali kita komentar pedas karena merasa paling benar? Padahal Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda
: قال رسول الله ﷺ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ (رواه البخاري ومسلم)
Artinya: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hari ini hadits itu bisa kita pahami ulang: “Berkata baik atau diam” berarti juga “Posting yang baik atau tidak usah posting.”
Generasi Digital dan Ujian Ego.
Anak-anak muda yang saya banggakan, Media sosial sering membuat kita merasa harus selalu terlihat benar.. Harus terlihat pintar..Harus terlihat unggul. Padahal puasa mengajarkan sebaliknya:,merendah.,tenang. tidak reaktif.
Ego adalah musuh terbesar anak muda. Bukan kekurangan followers yang berbahaya, tetapi kekurangan kontrol diri. Bukan sedikitnya like yang merugikan, tetapi hilangnya adab. Ramadhan datang untuk melatih itu. Kalau kita bisa menahan lapar 14 jam, masa tidak bisa menahan komentar 14 detik?
Jangan Jadi Generasi yang Mudah Terprovokasi.
Hari ini banyak konten yang sengaja dibuat untuk memancing emosi. Algoritma menyukai kemarahan. Konten provokatif lebih cepat viral. Tetapi seorang muslim tidak hidup mengikuti algoritma. Seorang muslim hidup mengikuti wahyu. Allah berfirman
:وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Tidaklah sama kebaikan dan keburukan. Tolaklah keburukan dengan cara yang lebih baik.” (QS. Fussilat: 34).
Kalau ada yang menghina, balas dengan tenang. Kalau ada yang memprovokasi, balas dengan elegan. Kalau tidak mampu, diam adalah kemuliaan. Jangan sampai puasa kita sah secara fiqh, tapi gagal secara akhlak.
Bangsa Ini Butuh Anak Muda yang Dewasa.
Indonesia ke depan ada di tangan generasi digital. Tahun 2045 nanti, yang memimpin negeri ini adalah kalian.. Pertanyaannya: apakah kita sedang melatih diri menjadi pemimpin, atau hanya menjadi komentator? Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Yang kurang adalah orang yang sabar.
Bangsa ini tidak kekurangan orang kritis. Yang kurang adalah orang yang bijak. Ramadhan adalah training kepemimpinan. Ia melatih disiplin. Ia melatih empati. Ia melatih kontrol diri. Dan pemimpin masa depan adalah mereka yang mampu menguasai dirinya sendiri.
Jadilah Influencer Kebaikan.
Kalau kalian aktif di media sosial, jadilah influencer kebaikan. Posting inspirasi. Sebar ilmu. Bangun optimisme. Bukan ikut-ikutan mencaci. Bayangkan kalau satu generasi muda Indonesia berkomitmen selama Ramadhan untuk tidak menyebar hoaks,Tidak menghina orang lain, Tidak ikut debat yang tidak produktif, Menebar konten positif,Maka Ramadhan bukan hanya memperbaiki individu, tapi memperbaiki ekosistem digital bangsa.
Kawan-kawan muda yang dirahmati Allah, Puasa bukan hanya menahan lapar. Puasa adalah latihan menjadi dewasa. Di era digital ini, menahan jempol adalah bagian dari ibadah. Semoga Ramadhan ini menjadikan kita generasi: Yang kuat iman. Yang santun dalam perbedaan.Yang dewasa dalam menyikapi kritik. Yang bijak dalam bermedia sosial. Karena masa depan Indonesia. bukan ditentukan oleh siapa yang paling viral, tetapi oleh siapa yang paling berintegritas
. اللَّهُمَّ اجْعَلْ شَبَابَ هَذِهِ الْأُمَّةِ شَبَابًا صَالِحًا، وَاجْعَلْهُمْ حُمَاةً لِلدِّينِ، وَبُنَاةً لِلْأَوْطَانِ، وَارْزُقْهُمُ الْعِلْمَ النَّافِعَ، وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ، وَالْقَلْبَ السَّلِيمَ.اللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ مِنْ فِتَنِ الشُّبُهَاتِ وَالشَّهَوَاتِ، وَاصْرِفْ عَنْهُمْ سُوءَ الْأَخْلَاقِ وَسُوءَ الْأَعْمَالِ. اللَّهُمَّ اجْعَلْهُمْ قُدْوَةً فِي الْخَيْرِ، وَمَفَاتِيحَ لِلرَّحْمَةِ، وَمَغَالِيقَ لِلشَّرِّ. اللَّهُمَّ وَحِّدْ قُلُوبَهُمْ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ،وَاجْعَلْ بِلَادَنَا آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً،رَخَاءً سَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمَقْبُولِينَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عُتَقَاءِ شَهْرِ رَمَضَانَ.آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
Ya Allah, jadikanlah para pemuda umat ini sebagai pemuda yang saleh. Jadikan mereka penjaga agama dan pembangun bangsa. Anugerahkan kepada mereka ilmu yang bermanfaat, amal yang saleh, dan hati yang bersih. Ya Allah, lindungilah mereka dari fitnah syubhat dan syahwat. Jauhkan mereka dari akhlak yang buruk dan perbuatan yang tercela. Ya Allah, jadikan mereka teladan dalam kebaikan, pembuka pintu rahmat, dan penutup pintu kejahatan. Ya Allah, satukan hati mereka, perbaikilah hubungan di antara mereka, jadikan negeri kami aman dan tenteram, penuh kesejahteraan dan keberkahan, demikian pula negeri-negeri kaum muslimin. Ya Tuhan kami, terimalah puasa dan ibadah kami, jadikan kami termasuk orang-orang yang Engkau terima, dan masukkan kami ke dalam golongan hamba yang Engkau bebaskan di bulan Ramadhan. Wallahu ‘alam bishshawab. [ ]





