Farmasi Masih Bergantung pada Impor

jabartoday.com/net
jabartoday.com/net
JABARTODAY.COM – BANDUNG — Ternyata, hingga kini, masih banyak sektor industri di tanah air yang memiliki kebergantungan impor cukup tinggi. Satu di antaranya, adalah inudustri farmasi.

Itu terjadi karena sejauh ini, pemenuhan kebutuhan bahan baku produk obat-obatan masih impor. “Benar. Impor bahan baku produk obat-obatan mayoritas impor. Sampai kini, 70 persen bahan baku produk obat-obatan masih impor. Kondisi itu menyebabkan harga obat-obatan menjadi mahal,” tandas Maharani, Peneliti Senior Bio Farma yang juga Ketua Forum Riset Life Science Nasional (FRLN) pada penyelenggaraan FRLN di Jalan Taman Cempaka, Selasa (23/8).

Kondisi ini sungguh ironis mengingat sebenarnya, Indonesia memiliki bahan baku obat-obatan yang berlimpah. Masih tingginya impor, lanjutnya, bukan tanpa sebab. Menurutnya, salah satu kendala memanfaatkan kandungan lokal adalah regulasi. Hal pun menjadi memicu serapan riset lokal yang masih rendah.

Kendati demikian, ujar dia, pihaknya terus berupaya meningkatkan kandungan lokal. Hal ini, terangnya, mengacu pada keinginan kuat pemerintah, yaitu meningkatkan komponen dalam negeri.

Dia berpendapat, salah satu upaya pengoptimalan pemakaian kandungan lokal yaitu melakukan percepatan hilirisasi produk life science. Selain itu, imbuhnya juga memerlukan dukungan lain, seperti kebijakan dan regulasi pemerintah, termasuk pendanaan.

Sementara itu, dalam ITB CEO Summit on Innovation, Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Jumain Appe. mengakui bahwa hingga kini, tingkat pemanfaatan riset dalam negeri oleh dunia usaha masih minim. Dia mengamini bahwa regulasi masih menjadi kendala.

Jumain menyatakan, guna memangkas biaya produksi sekaligus mendongkrak iklim riset sebaiiknya, pemerintah merevisi sejumlah regulasi. “Banyak regulasi yang menjadi penghambat. Sebaiknya, lakukan revisi,” tutup dia. (ADR)

Related posts