
JABARTODAY.COM, BANDUNG – – Dosen Program Studi S1 Pariwisata Universitas ‘Aisyiyah Bandung, Dr. Mohammad Anwar Syi’aruddin, S.Hum., M.A., menjadi salah satu panelis dalam kegiatan Launching dan Bedah Buku “Bendera Kehilangan Warna” karya Finna Hari F.A. Kegiatan literasi yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Banyuresmi tersebut berlangsung di Kedai Secawan Rempah, Jalan Ibrahim Adjie, Tarogong Kidul, Garut. Sabtu, (13/06/2026)
Kegiatan ini menjadi wadah apresiasi sekaligus pengembangan tradisi intelektual kader Muhammadiyah melalui penguatan budaya membaca dan menulis. Selain dihadiri kader Pemuda Muhammadiyah Banyuresmi, kegiatan juga melibatkan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) se-Banyuresmi, pengurus Muhammadiyah tingkat cabang dan daerah, akademisi, pegiat literasi, serta masyarakat yang memiliki perhatian terhadap pengembangan dunia literasi.
Dalam sesi bedah buku, Dr. Mohammad Anwar yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Cabang Muhammadiyah Banyuresmi menyampaikan bahwa judul Bendera Kehilangan Warna menggambarkan kegelisahan penulis terhadap kondisi masyarakat muslim Indonesia yang dinilai mulai kehilangan makna kemerdekaan yang sesungguhnya. Menurutnya, kebebasan yang seharusnya menjadi ruh dari semangat kemerdekaan justru dalam berbagai aspek dirasakan semakin terkekang.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa makna simbolik dalam judul tersebut dapat dimaknai lebih luas sebagai gambaran individu maupun institusi yang mulai kehilangan identitas dan ruhnya. Seorang muslim, menurutnya, dapat kehilangan ruh keislamannya, demikian pula lembaga pendidikan, komunitas, maupun organisasi yang berpotensi kehilangan nilai-nilai dasar yang menjadi jati dirinya.
“Melalui buku ini, kita diajak untuk merefleksikan kembali pentingnya menjaga identitas, karakter, dan nilai-nilai yang menjadi fondasi kehidupan. Kehilangan warna tidak hanya dimaknai sebagai hilangnya kebebasan, tetapi juga hilangnya jati diri,” ujar Dr. Mohammad Anwar, Kamis (18/06/2026).
Ia juga menekankan pentingnya membangun budaya literasi di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat. Menurutnya, tantangan saat ini bukan lagi terbatas pada akses terhadap sumber bacaan, melainkan pada kemauan untuk membaca dan keberanian untuk menulis.
“Saat ini yang kurang bukanlah perpustakaan, buku, atau teknologi, melainkan kemauan untuk membaca dan keberanian untuk menulis. Sebab Iqra’ bukan hanya perintah membaca teks, tetapi juga membaca konteks. Ketika seseorang mampu membaca zamannya, ia akan menemukan jati dirinya; ketika ia mampu berkarya, hidupnya akan menjadi lebih bermakna,” ungkapnya, Kamis (18/06/2026).
Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan tidak hanya semakin mencintai dunia literasi, tetapi juga mampu menjadikan membaca dan menulis sebagai bagian dari ikhtiar membangun peradaban serta memperkuat nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.[ ]





