Home » Hukum » Divonis 8 Bulan Penjara, Gilang: Senang Banget

Divonis 8 Bulan Penjara, Gilang: Senang Banget

Pelaku pemalsuan tanda tangan Kepala Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Bandung, Gilang Ginanjar, menghadapi vonis hakim Pengadilan Negeri Bandung, Kamis (28/11). Gilang membuat surat ajakan ritual seks bebas dengan mengatasnamakan Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah. (JABARTODAY/AVILA DWIPUTRA)

Pelaku pemalsuan tanda tangan Kepala Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Bandung, Gilang Ginanjar, menghadapi vonis hakim Pengadilan Negeri Bandung, Kamis (28/11). Gilang membuat surat ajakan ritual seks bebas dengan mengatasnamakan Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah. (JABARTODAY/AVILA DWIPUTRA)

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Pelaku pemalsu surat berisi ajakan mengikuti seks bebas, Gilang Ginanjar, diganjar hukuman 8 bulan penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Bandung. Dalam sidang yang digelar di Ruang IV PN Bandung, Rabu (28/11), majelis hakim menganggap Gilang telah melanggar Pasal 263 ayat (1) KUHP tentang Pemalsuan dan Pasal 311 KUHP tentang Pencemaran Nama Baik.

Hakim Ketua Estining menyebut, terdakwa telah melakukan fitnah dengan menggunakan nama Kepala Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Bandung Muhammad Anwar juga tanda tangannya di surat perintah mengikuti ritual seks bebas. “Namun terdakwa memiliki kesehatan jiwa yang labil dan menjadi salah satu hal yang meringankan untuk terdakwa,” ucap Estining dalam pembacaan putusannya.

Selain itu, Gilang juga mengakui telah melakukan perbuatan tersebut dan merasa bersalah. Maka itu, vonis yang dijatuhkan lebih rendah dari tuntutan jaksa yang meminta dirinya dihukum satu tahun penjara.

Atas putusan tersebut, kedua pihak, baik terdakwa melalui kuasa hukumnya dan juga jaksa penuntut umum menerimanya. “Senang banget,” singkat Gilang usai sidang.

Tito Panjaitan, kuasa hukum Gilang, membeberkan alasan pihaknya menerima vonis hakim tersebut. Menurutnya, surat palsu itu telah diakui oleh terdakwa, sehingga tak ada alasan dirinya menepis hal tersebut. “Putusan hakim ini sungguh sangat memuaskan kami semua dari sejak awal sudah terungkap di pihak Intel Polrestabes Bandung dan muncul di masyarakat, tidak perlu menjadi tindak pidana asal bisa membina si terdakwa,” kata Tito.

Adanya orang ketiga yang disebutkan di dakwaan dan belum terungkap juga menjadi pertimbangan hakim, sehingga jaksa dan kuasa hukum kompak menerima vonis itu. “Hakim memberikan vonis yang puas bagi kami semua,” imbuh Tito.

Sebelumnya, sekitar Mei 2013 ditemukan Surat Perintah bernomor 041/019-C-Kapuserda dan ditandatangani Kepala Perpustakaan dan Arsip Daerah Bandung, Dr H Muhammad Anwar, MSi yang ditujukan kepada karyawan dan karyawati di lingkungan Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Bandung.

Tujuan surat adalah untuk melaksanakan tugas mengikuti ritual seks bebas di dalam misa hitam sesuai dengan jadwal dan lokasi yang telah ditentukan kalender ritual 2013. Tak dijelaskan maksud misa hitam dan detail jadwal dan lokasi.

Selanjutnya, ada tiga hal dalam poin keterangan:

1. Ritual ini atas ijin gembala sidang Gereja XX dalam misa hitam yang diadakan pada saat-saat tertentu.
2. Dokumen Pelaksana Anggaran (DPA) Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Bandung No DPA 1.24.01.01.08.52 tanggal 1 Januari 2013.
3. Untuk kepentingan pribadi dan sangat rahasia.

Di akhir surat terdapat penegasan, perintah itu harus dilaksanakan dan dilaporkan ke Kepala Perpustakaan dan Arsip Daerah dan gembala Gereja XX. Ditetapkan di Bandung pada tanggal 31 Januari 2013.

Di lampiran, ada 10 nama yang disebutkan lengkap dengan Nomor Induk Pegawai (NIP), jabatan, dan pasangan seks bebasnya. Ada satu dokumen yang berupa piagam penghargaan piagam penghargaan terkait ritual itu. Tak disebutkan, apa prestasi peserta ritual berjenis kelamin perempuan itu sehingga layak mendapatkan piagam. (VIL)

Komentar

komentar