Home » Ekonomi » Penjualan Cat Saat Pemilu Cenderung Sepi

Penjualan Cat Saat Pemilu Cenderung Sepi

PacificJABARTODAY.COM – BANDUNG

Tahun depan, sebuah ajang dan agenda akbar berlangsung di Indonesia, yaitu Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden. Namun, ternyata, kedua ajang itu tidak selamanya berefek positif bagi dunia industri. Adalah industri cat, salah satu contohnya yang kurang terpengaruh efek positif kedua agenda politik itu.

“Berdasarkan pengalaman, penjualan cat saat agenda Pileg dan Pilpres cenderung sepi,” ujar General Manager Project Sales Pacific Paint, Dece Limeyani, di sela-sela diskusi dengan sejumlah jurnalis di Jalan Anggrek 42 Bandung, akhir pekan kemarin.

Dece mengatakan, kecenderungan sepinya pasar dan penjualan cat saat ajang itu berlangsung karena frekuensi building material pun turun. Artinya, jelas dia, saat ajang Pileg dan Pilpres 2014 bergulir, berdasarkan pengalaman, sejumlah proyek mengalami penundaan. Efeknya, penjualan pun tertunda.

Meski demikian, secara keseluruhan, tahun depan, pihaknya tetap optimis, kinerja industri cat tetap tumbuh. Pihaknya, cetus dia, memproyeksikan pertumbuhan penjualan sekitar 20-25%.

Untuk merealisasikannya, ungkap Dece, pihaknya membidik kalangan low. Dijelaskan, dalam industri cat, terdapat tiga segmen, yaitu premium, medium, dan low. “Segmen low mendominasi pasar dan penjualan kami, yaitu sekitar 40 persen. Sedangkan segmen premium sekitar 20 persen. Sisanya, medium,” lanjut dia.

Alasan lain mengapa segmen low menjadi bidikan, tambah Dece, karena pihaknya memang menjadikan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebagai target pasar. “Tidak hanyayang bersifat landed house, tetapi juga vertical house, seperti rusunawa (rumah susun sederhana sewa) dan rusunami (rumah susun sederhana milik),” kata dia.

Bukti lain bahwa segmen low merupakan pasar terbuka, imbuhnya, saat ini, pihaknya siap menggarap proyek pengecatan 12 ribu unit rumah. “Selain itu, kami pun siap mengerjakan pengecatan 12 rusun yang menjadi program Pak Jokowi (Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta),” ungkapnya.

Mengenai pelemahan rupiah terhadap dollar Amerika Serikat, Dece memandang, hal itu tidak terlalu berpengaruh. Pasalnya, jelas dia, sejauh ini, pihaknya lebih mengandalkan material lokal. “Sekitar 80-85 persen kami menggunakan komponen lokal yang tidak sulit memperolehnya. Sementara komponen impor sekitar 15-20 persen,” pungkasnya. (VIL)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.