Home » Balad Persib » Soal Kinerja Keuangan, Persib Belum Transparan

Soal Kinerja Keuangan, Persib Belum Transparan

Persib Bandung

Persib Bandung

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Dalam beberapa tahun terakhir, di berbagai negara, sepakbola sudah menjadi sebuah industri olah raga. Tentunya, pengelolaannya pun, termasuk sistem finansial, sudah seharusnya, profesional dan transparan.
 
Sebenarnya, hal itu dapat berlangsung di Indonesia mengingat saat ini, sepakbola menjadi olah raga yang paling diminati berbagai kalangan. Karenanya, Persib Bandung, sebagai klub sepak bola yang dipegang PT Persib Bandung Bermartabat, sudah selayaknya dan sepantasnya mencontoh klub-klub besar macam Real Madrid, Manchester United, dan lainnya.
 
“Sebelum dan setelah era profesional, Persib memang sudah menjadi milik publik Jawa Barat. Pengelolaannya, termasuk sistem keuangan, harus secara profesional dan terbuka,” ujar pengamat ekonomi Universitas Pasundan, Acuviarta Kartibi, Jumat (14/3/2014).
 
Menurutnya, sebagai klub yang menjadi ‘milik’ publik, para pengurus dan direksi PT PBB, termasuk manajemen tim, idealnya lebih transparan dalam sistem keuangan. Untuk tim, misalnya, jelas Acu, sapaan akrabnya, berapa nilai kontrak pemain yang dibutuhkan Pangeran Biru dalam mengarungi satu musim kompetisi. Angka itu, lanjutnya, belum termasuk kontrak pelatih, biaya akomodasi, dan sebagainya.
 
Transparansi lainnya, kata Acu, dalam hal sponsorship. Sejauh ini, ujar Acu, memang, Persib memperoleh banyak sponsor. Akan tetapi, kata dia, publik tidak mengetahui berapa nilai sponsor dan peruntukannya. “Apakah sponsor itu untuk biaya kontrak pemain, atau lainnya. Publik tidak tahu,” katanya.
 
Sisi lain, yaitu pada keberadaan PT PBB, Acu berpendapat, sebagai sebuah perusahaan, sudah seharusnya, seperti perusahaan-perusahaan lain, PT PBB pun harus berorientasi bisnis. Artinya, jelas Acu, bagaimana meraih keuntungan yang pemanfaatannya untuk mengembangkan Persib.
 
Contohnya, terang Acu, ketika Persib mengontrak pemain selama beberapa musim, katakanlah 3 musim. Kemudian, pada musim ke-2, Persib melepaskannya. Pertanyaannya, imbuh Acu, apakah ada biaya transfer dalam proses tersebut. Jika ada, sahut Acu, tidak ada salahnya PT PBB kemukakan kepada publik.
 
Yang terjadi saat ini, tambahnya, publik tidak tahu apakah selama ini PT PBB meraup untung atau tidak. “Kalau meraih laba, berapa nilainya. Sebaliknya, jika mengalami kerugian, berapa pula jumlahnya,” sambung Acu.
 
Memang, tuturnya, sejauh ini, PT PBB, yang menaungi Persib, belum bersifat terbuka (Tbk) karena perusahaan itu belum melakukan IPO (Initial Public Offering). Meski demikian, ujarnya, tidak ada salahnya, jika PT PBB bersifat transparan dalam pengelolaan, termasuk finansial Persib.
 
Hal ini, seru Acu, agar Persib lebih mendapat kepercayaan publik. Apabila sudah memperoleh kepercayaan publik, Acu berpandangan, kemungkinan besar, Persib tidak sulit mencari sponsor. “Bahkan, tidak tertutup kemungkinan, banyak lembaga atau perusahaan yang berlomba-lomba ingin menjadi sponsor Persib karena tim tersebut memang begitu menjual dan menjanjikan,” tutup Acu. (ADR)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.