Rudal di Iran, Krisis di Indonesia: Menakar Dampak Perang Iran-Israel

Gravatar Image

Oleh Ageng Sutrisno

Empat kapal ditembak. Harga minyak langsung melonjak menembus 80 dolar per barel. Baru sehari. Dunia selalu bereaksi berlebihan pada kejutan pertama, namun sejarah menunjukkan: yang benar-benar mematikan bukan ledakan awal, melainkan durasinya.

Saya tidak tertarik meramal nasib dunia setiap negara punya cadangan, bantalan, dan daya tahan berbeda. Yang ingin saya hitung hanya satu: Indonesia. Karena di sinilah dampak itu akan mendarat, pelan tapi pasti.

Patokan harga minyak dalam APBN kita berada di angka 70 dolar per barel. Setiap kenaikan 1 dolar membuka potensi defisit sekitar 6 miliar dolar AS, atau kira-kira 70 triliun rupiah. Jika harga menembus 100 dolar per barel, itu bukan sekadar pembengkakan itu kerusakan struktural.

BBM berpotensi langka. Gas menyusul naik. Rupiah tertekan. Barang impor melonjak. Inflasi menjalar dari dapur ke jalanan. Perang yang bertahan lebih dari satu bulan akan menyeret Indonesia ke wilayah krisis. Pertengahan tahun bisa menjadi titik rapuh bukan karena kita lemah, melainkan karena kita tidak siap.

Selat Hormuz dan Politik Waktu
Pertanyaannya sederhana namun krusial: berapa lama selat ini akan ditutup? Tak ada jawaban pasti. Namun dari pernyataan Donald Trump, Amerika Serikat menginginkan perang selesai dalam empat minggu. Bukan demi kemanusiaan, melainkan logistik.

Rudal pencegat mahal, stok terbatas, dan tidak bisa diproduksi instan. Perang panjang akan mendorong harga minyak ke puncak krisis global. Dan bagi Trump, itu berarti dua hal: tekanan politik di dalam negeri dan kecaman internasional. Masalahnya bukan apakah Amerika mau cepat selesai, melainkan apakah Iran mau.

Bom Waktu di Atas Piring Kita
Jika energi adalah darah bagi industri, maka pupuk adalah nyawa bagi pangan. Inilah titik buta yang sering dilupakan dalam analisis perang Timur Tengah.

Selat Hormuz bukan hanya jalur pipa minyak, melainkan urat nadi pasokan bahan baku pupuk dunia termasuk sulfur dan fosfat yang kita impor dalam jumlah masif dari kawasan tersebut. Saat jalur itu terkunci, rantai pasok pupuk kita akan putus.

Akibatnya sederhana namun mengerikan: biaya tanam petani membengkak, produktivitas gabah merosot, dan harga pangan melonjak. Inilah saat di mana “dapur kita benar-benar terkubur”. Ketika harga BBM naik dan harga pangan melonjak bersamaan, amarah rakyat selalu datang lebih cepat daripada solusi elite.

Mengurusi MBG saja masih kacau balau, bagaimana mengamankan kelangkaan sumber daya lainnya? Mendata PBI sekecamatan agar tepat sasaran saja tidak akurat, bagaimana hal yang lebih prinsip seperti kedaulatan pangan di masa perang?

Perang Asimetris dan Dunia sebagai Sandera
Iran memilih perang asimetris jangka panjang. Drone, ranjau laut, rudal antikapal, kapal selam semuanya diarahkan ke satu titik tekan: Selat Hormuz.

Selat ini bukan sekadar jalur pelayaran, melainkan alat tawar-menawar geopolitik. Amerika dan sekutunya bahkan kesulitan menyelesaikan konflik dengan Houthi. Maka menghadapi Iran adalah cerita lain. Iran tidak bertanya apakah ia mampu bertahan. Ia sudah terbiasa hidup dalam sanksi. Yang ingin ia lakukan kini hanyalah satu: membuat dunia merasakan apa arti sanksi dari sisi yang lain.

Marah yang Tidak Datang dari Ruang Kosong
Apakah Iran pantas marah? Saya memilih netral. Informasi tingkat tinggi menyebutkan Iran sebenarnya telah sepakat tidak memperkaya uranium di atas 20 persen dan sedang menyusun proposal soal rudal jarak jauh. Namun di tengah proses diplomasi itu, Israel dan Amerika Serikat justru melancarkan serangan saat para petinggi Iran berkumpul membahas proposal tersebut.

Ini tampak seperti sabotase kesepakatan. Harapannya sederhana tapi naif: elite mati, rakyat memberontak, negara runtuh. Perhitungan itu keliru. Rakyat Iran mungkin membenci penguasanya, tetapi mereka paham satu hal: runtuhnya negara berarti perang saudara.

Empat Minggu dan Kita yang Tidak Siap
Perang 12 hari sebelumnya berhenti atas permintaan Israel karena stok pencegat habis. Kini stok terisi, perang dimulai lagi. Amerika ingin empat minggu. Iran belum tentu.

Yang mengkhawatirkan justru kita negara yang sejak lama diingatkan agar bijak anggaran dan siap menghadapi krisis global, namun yang terjadi sebaliknya: belanja ugal-ugalan untuk hal yang tidak penting dan tanpa disiplin fiskal yang memadai. Ketika menteri keuangan seharusnya mengingatkan, yang terdengar justru klaim “uang kita banyak” padahal faktanya “utang kita yang banyak”.

Dalam dunia yang ditopang energi dan pangan, itu bukan optimisme itu kelalaian. Saya tidak berharap banyak. Hanya satu: semoga perang ini tidak berlangsung lama, dan kita masih diberi ruang untuk hidup normal di sela waktu yang makin sempit.

Ageng Sutrisno adalah penulis sela waktu. Biasa menulis tentang kehidupan, sosial, politik dan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan statistik. Kalau tidak menulis, biasanya sedang mikir kenapa harga nasi goreng terus naik. [*]

Related posts