
“Sampai saat ini, mayoritas masyarakat di negara ini, masih menjadikan tabungan dan deposito sebagai pilihan utama sebagai instrumen berinvestasi. Padahal, ada beberapa instrumen investasi yang sebenarnya, lebih berefek positif,” tandas Presiden Direktur PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Legowo Kusumonegoro, pada Pemaparan Misi 10 Perencanaan Keuangan di Kantor Cabang PT Manulife Indonesia Bandung, Jalan Asia Afrika Bandung, Selasa (16/2).
Berdasarkan survey, ucapnya, ada beberapa produk yang menjadi opsi masyarakat berinvestasi. Yang tertinggi, katanya, adalah berupa simpanan dana tunai sebesar 72 persen, yaitu tabungan dan deposito. Lalu, katanya, investasi emas sebesar 67 persen. Berikutnya, sambungnya, adalah properti sebesar 44 persen.
Menurutnya, dalam kondisi yang tingkat kebutuhan kian tinggi seiring dengan adanya berbagai faktor ekonomi, seperti inflasi dan lainnya, sudah saatnya masyarakat melakukan diversifikasi aset, yaitu berinvestasi pada instrumen lain. “Bisa berupa reksa dana, asuransi, atau saham,” katanya.
Sayangnya, ungkap Legowo, hingga kini, pemahaman masyarakat mengenai instrumen-instrumen investasi tersebut masih rendah. Karenanya, ulang Legowo, mayoritas masyarakat tetap menjadikan tabungan dan deposito sebagai opsi utama berinvestasi. Terbukti, pada triwulan terakhir 2015, simpanan dana tunai sebesar 38 persen atau lebih tinggi 8 persen daripada triwulan terakhir 2014. Padahal, katanya, tabungan dan deposito memiliki banyak hal lain yang dapat mengurangi nilai dana yang disimpan masyarakat. Antara lain, katanya, potongan pajak, risiko bank, termasuk inflasi.
Selain itu, hampir semua masyarakat yang membuka tabungan memiliki kartu ATM yang bisa berfungsi sebagai kartu debet dan juga kartu kredit. Secara tidak sadar, katanya, pemakaian kartu debet itu dapat menggerus nilai dana yang disimpan masyarakat pada perbankan.
Lain halnya dengan instrume investasi non-tabungan dan deposito. “Nilai tambah dan imbal hasil reksa dana, asuransi, serta saham tidak terkena potongan pajak dan inflasi. Selain itu, likuiditasnya pun tergolong tinggi karena pencairannya dapat berlangsung kapan saja,” tutupnya. (ADR)





