Desain Pendidikan Nasional Harus Berbasis Kreatifitas dan Inovasi

Dr. Hanief Saha Ghofur saat Kunjungan di Chung Hua University (dok. Istimewa)

JABARTODAY.COM –  keunggulan bersaing suatu bangsa terletak pada seberapa tinggi kualitas pendidikan nasional mereka. Sedangkan kualitas pendidikan nasional lebih banyak ditentukan oleh seberapa besar karya-karya inovasi dalam dunia pendidikan mereka.

Demikian pendapat Pakar Manajemen Mutu Pendidikan, Dr. Hanief Saha Ghofur dalam dialog interaktif  bersama Jabartoday.com di Jakarta, Senin (4/9).  Dalam kesempatan itu Hanief melihat posisi pendidikan nasional dalam mengubah suatu bangsa menuju kemajuan yang dikehendaki.

“Saat berjuang agar NKRI merdeka,  kita punya jargon “merdeka atau mati“.  Namun  perjuangan ke depan ditentukan oleh kemampuan kita  dalam berkreasi dan  berinovasi atau kita mati, ” kata Hanief dengan nada meyakinkan.

Hanief menegaskan bahwa  bangsa yang selalu dirundung krisis kemiskinan, kebodohan, konflik, perang, dan tak mampu mengatasi masalah internalnya. “Negara yang seperti itu yang oleh Gunnar Myrdal sering disebut sebagai soft nation itu, sedang
bangsa-bangsa yang berdaya saing tinggi mampu mengatasi semua masalah dengan cepat, cerdas, & sukses. Bahkan kompetitif & leading dalam setiap persaingan dengan bangsa-bangsa lain disebut itu disebut bangsa unggul,” jelasnya.

Menurut Hanief, perubahan dalam hidup ini adalah sebah keniscayaan. Semakin cepat perubahan dan semakin ketat persaingan, maka semakin kuat kebutuhan akan kreatifitasdan  inovasi untuk tetap bertahan dan menguasai persaingan.  Bahkan dalam perencanaan,  kreatifitas dan inovasi harus lebih cepat dan laju memandu dibanding dengan perubahan dan  persaingan itu sendiri.

Hanief mencontohkan, betapa ketatnya persaingan dijagat galaxy antara HP IPhone dengan Samsung dipasaran.  Juga persaingan sejumlah produk elektronika antara  Jepang, Korea Selatan dan Taiwan.  Semua itu  kembali kepada 6 penentu keunggulan mutu bangsa-bangsa di dunia. Jelas sekali dua kunci penentu kemenangan yaitu kekuatan ekonomi & kemampuan Iptek. namun ada dua  motor penggerak yaitu perubahan dan  persaingan positif.  “Namun pemandunya  tetaplah dua, yaitu  kreatifitas dan inovasi,” jelasnya.

Hanief mengaku bersyukur, meski Indonesia masih tertinggal dalam usaha peningkatan mutu pendidikannya, namun  dari tahun ke tahun di tengah persaingan bangsa-bangsa di dunia peringkat Indonesia dalam IMD World Competitiveness Ranking 2017 terus meningkat & naik 6 peringkat di atas India, Rusia, Turki. “Jadi kita harus tetap optimis karena peluang kemajuan itu tetap terbuka sejauh kita mau berkreasi dan bernovasi,” harap Ketua PBNU ini.(jos)

 

Related posts