Khutbah Jumat: Gangguan Prokrastinasi Dalam Aktifitas Sunnah

Oleh: KH.Drs.Abdurahman Rasna,M.Ag*

*penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Al Ashr Al Madani, Jl. Arcamanik 48 Bihbul Sindanglaya Bandung dan Anggota Majelis Fatwa PB Mathla’ul Anwar

 

Khutbah Pertama:

 

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ، وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ، وَرَضِيَ لَنَا الْإِسْلَامَ دِيْنًا، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ، وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

صَلَّى اللهُ وسلم  عَلَيْهِ وعلى اله وأصحابه ومن اتبع هداه إلى يوم. لقاء رب العزة.

Berita Terkait

اما بعد : فيا عباد الله رحمكم الله،

أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

قال الله تعالى في القرآن الكريم.

أعوذ بالله السميع العليم من الشيطان الرجيم.

 

وما اتاكم الرسول فخذوه وما معاكم عنه فانتهوا …….

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Menyanjung dan memuji serta syukur kepada Allah SWT  yang telah memberi karunia yang tak bertepi tak berbatas, karunia yang tiada terhingga, baik karunia berupa kesehatan jasmani dan rohani, karunia fasilitas logistik yang telah Allah SWT cukupkan untuk kita, sehingga hari Jum’at ini kita masih mendapat perkenannya untuk terus beribadah, baik ibadah fardiyyah/individual maupun ibadah secara berjamaah/komunal. Alhamdulillaah.

 

Shalawat dan kesejahteraan semoga selalu di salurkan kepada Junjunan kita yakni Nabi Besar Muhammad saw beserta seluruh keluarganya, para sahabatnya serta ummatnya hingga hari akhir zaman.

 

Selaku khatib Jum’at, saya berwasiat khususnya kepada pribadi sendiri dan kepada kita, marilah kita memantapkan takwa kepada Allah SWT dengan lebih santun dan lembut lagi dalam setiap kita melaksanakan perintah Allah SWT dan meninggalkan yang dilarang oleh Allah SWT.

 

بسم الله الرحمن الرحيم

وما اتاكم الرسول فخذوه وما معاكم عنه فانتهوا …….

 

Prokrastinasi umumnya dipahami sebagai kebiasaan menunda pekerjaan hasil pemikiran. Namun, dalam perspektif Islam, prokrastinasi juga dapat terjadi dalam pelaksanaan amal-amal sunnah, seperti salat tahajud, salat dhuha, membaca Al-Qur’an, berdzikir, bersedekah, berpuasa sunnah, menghadiri majelis ilmu, maupun aktivitas dakwah dan pelayanan sosial. Penundaan tersebut sering kali tidak disebabkan oleh ketidaktahuan terhadap keutamaannya, melainkan oleh lemahnya regulasi diri, konflik emosional, perfeksionisme spiritual, dan rendahnya motivasi intrinsik.

 

Padahal Rasulullah saw sudah mengingatkan , sebagaimana hadits Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

 

“Bersegeralah melakukan amalan sholih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” (HR. Muslim no. 118).

 

Pemikiran Neil Fiore, Ph.D dalam The Now Habit: A Strategic Program for Overcoming Procrastination and Enjoying Guilt-Free Play memberikan perspektif psikologis yang menarik untuk menjelaskan mengapa seseorang sering menunda melakukan kebaikan meskipun memahami manfaatnya. Buku tersebut memperlihatkan bahwa prokrastinasi bukan sekadar kemalasan, tetapi merupakan respons psikologis terhadap rasa takut, tekanan, kecemasan, serta kritik yang berlebihan terhadap diri sendiri.

 

Dalam perspektif Bimbingan dan Konseling Islam (BKI), pemahaman tersebut dapat diperkaya melalui integrasi nilai-nilai ruhani (spiritualitas) dengan menguatkan niat sehingga penanganan prokrastinasi tidak hanya berorientasi pada perubahan perilaku, tetapi juga pada penguatan keimanan, kesadaran beribadah, dan pembentukan akhlak istiqamah.

 

( إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَِى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

 

“Amalan-amalan itu hanyalah tergantung pada niatnya. Dan setiap orang itu hanyalah akan dibalas berdasarkan apa yang ia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya keapda Allah dan Rasul-Nya. Namun barang siapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau seorang wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia niatkan tersebut.” (Diriwayatkan oleh al Bukhari (1) dan Muslim (1907).

 

 

-» Prokrastinasi Amal Sunnah sebagai Gangguan Regulasi Diri

 

Amal sunnah memiliki karakteristik yang berbeda dengan ibadah wajib. Karena tidak disertai kewajiban hukum yang mengikat, pelaksanaannya sangat bergantung pada motivasi intrinsik, kedisiplinan pribadi, serta kualitas pengendalian diri. Kondisi inilah yang menyebabkan amal sunnah lebih rentan mengalami prokrastinasi.

 

Seseorang dapat berkata, “Besok saja saya membaca Al-Qur’an,” “Nanti malam saya akan tahajud,” “Sedekah setelah gajian berikutnya,” atau “Saya akan mulai menghafal Al-Qur’an ketika sudah lebih siap.” Penundaan yang terus berulang akhirnya berubah menjadi kebiasaan yang menghambat perkembangan spiritual.

Neil Fiore menjelaskan bahwa penundaan muncul karena individu menghubungkan suatu aktivitas dengan tekanan psikologis. Dalam konteks ibadah sunnah, tekanan tersebut dapat berupa rasa belum cukup baik, takut tidak istiqamah, merasa ibadah harus sempurna, atau menganggap dirinya belum layak menjadi pribadi saleh. Akibatnya, seseorang memilih menunda daripada memulai.

 

Dalam hal ibadahpun sering terlihat ada orang yang menunda-nunda untuk melaksanakan hingga habis waktunya, misalnya menunda mengerjakan shalat. Padahal sudah jelas-jelas Rasulullah saw melarang menunda setiap kebajikan

 

ﻻَ ﺗُﺆَﺧِّﺮْ ﻋَﻤَﻠَﻚَ ﺇِﻟﻰَ ﺍﻟﻐَﺪِ ﻣَﺎ ﺗَﻘْﺪِﺭُ ﺃَﻥْ ﺗَﻌْﻤَﻠَﻪُ ﺍﻟﻴَﻮْﻡَ

 

Artinya: Janganlah menunda pekerjaan yang dapat kamu kerjakan hari ini hingga esok hari.

 

-» Perfeksionisme Spiritual sebagai Penyebab Penundaan

 

Salah satu kontribusi penting The Now Habit adalah penjelasan mengenai perfeksionisme sebagai akar prokrastinasi. Dalam kehidupan beragama, perfeksionisme spiritual dapat muncul ketika seseorang merasa bahwa ibadahnya harus selalu sempurna. Apabila tidak mampu melaksanakan seluruh rangkaian ibadah dengan kualitas terbaik, ia memilih untuk tidak memulai sama sekali.

 

Padahal Islam justru mengajarkan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit. Prinsip ini menunjukkan bahwa konsistensi lebih utama daripada kesempurnaan sesaat. Dengan demikian, konsep Persistent Starting dari Neil Fiore memiliki relevansi yang kuat dengan nilai istiqamah dalam Islam.

 

Sanda Nabi Saw :

 

احب الاعمال عند الله ادومهت وإن قل

 

“Amal yang paling dicintai Allah adalah amalan kontinuitas sekalipun memiliki nilai yang kecil”.(Hadits Aisyah.)

 

-» Self-Talk Negatif dalam Kehidupan Beragama

 

Fiore menekankan pentingnya dialog internal (self-talk) dalam membentuk perilaku. Individu yang terus mengatakan kepada dirinya bahwa ia malas, tidak layak, atau pasti gagal akan semakin sulit memulai tindakan.

 

Dalam perspektif BKI, self-talk negatif perlu diubah melalui muhasabah, tafakur, dzikir, doa, serta husnuzan kepada Allah. Konselor Islam membantu konseli mengganti pikiran seperti “Saya tidak mampu istiqamah” menjadi “Saya akan memulai sedikit demi sedikit karena Allah mencintai amal yang konsisten.” Perubahan dialog internal ini memperkuat efikasi diri sekaligus meningkatkan kesehatan spiritual.

 

Evaluasi diri dengan memperbanyak istighfar dari segala kekhilafan dan kesalahan serta berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan kesalehan disertai dengan selalu mengingat Tuhan dalam Riyadhah dan dzikir memperkuat efikasi diri dan meningkatkan kesehatan spiritual serta menentramkan jiwa

 

الذين امنوا وتطماءن قلوبهم بذكر الله الا بذكر الله تطمئن القلوب

 

“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan dzikir dan  mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’du : 28.)

 

-» Manajemen Waktu Islami dan Konsep Unschedule

 

Konsep Unschedule yang diperkenalkan Fiore mengajarkan bahwa jadwal kehidupan tidak seharusnya dipenuhi oleh tuntutan pekerjaan semata. Aktivitas rekreasi, keluarga, olahraga, dan istirahat perlu direncanakan agar produktivitas meningkat.

 

Dalam perspektif Islam, konsep tersebut dapat dikembangkan menjadi Manajemen Waktu Islami, yaitu schedulling, menyusun aktivitas harian dengan menjadikan waktu shalat sebagai pusat pengaturan kehidupan. Di sela-sela waktu tersebut dapat disisipkan tilawah Al-Qur’an, dzikir pagi dan petang, salat dhuha, sedekah, belajar, bekerja, serta aktivitas keluarga.

Dengan demikian, amal sunnah tidak lagi dipandang sebagai aktivitas tambahan, tetapi menjadi bagian integral dari ritme kehidupan seorang Muslim.

 

-» Flow Spiritual dalam Ibadah &

Bab mengenai Flow State juga memiliki kesesuaian dengan konsep khusyuk dalam Islam.

 

Ketika seseorang telah terbiasa melaksanakan amal sunnah secara konsisten, ia akan memasuki kondisi psikologis yang ditandai dengan fokus penuh, ketenangan batin, dan kedekatan kepada Allah. Pengalaman tersebut melahirkan kebahagiaan intrinsik sehingga ibadah tidak lagi dirasakan sebagai beban, melainkan sebagai kebutuhan ruhani.

 

Hendaklah setiap muslim menghindari khusyuknya orang munafik. Sebagaimana kata Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata mengenai khusyuknya orang munafik adalah,

 

أَنْ تَرَى الجَسَدَ خَاشِعاً وَالقَلْبُ لَيْسَ بِخَاشِعٍ

 

“Jasad terlihat khusyuk, tetapi hati tidaklah khusyuk.” (Madarij As-Salikin, hlm. 521)

 

-» Implikasi bagi Praktik Bimbingan dan Konseling Islam.

 

Dalam praktik BKI, gangguan prokrastinasi amal sunnah dapat ditangani melalui pendekatan yang mengintegrasikan psikologi modern dan nilai-nilai Islam. Konselor membantu konseli mengidentifikasi penyebab emosional penundaan, mengubah self-talk negatif, menyusun target amal yang realistis, membangun kebiasaan memulai dari langkah kecil, melakukan evaluasi diri (muhasabah), memperkuat motivasi ibadah, serta menumbuhkan sikap istiqamah.

 

-» Kesimpulan:

 

Gangguan prokrastinasi dalam amal sunnah merupakan bentuk kelemahan regulasi diri yang dipengaruhi oleh faktor psikologis, emosional, dan spiritual. The Now Habit karya Neil Fiore memberikan kontribusi penting dalam memahami mekanisme psikologis di balik perilaku menunda, sedangkan Bimbingan dan Konseling Islam memperkaya pendekatan tersebut melalui integrasi nilai muhasabah, dzikir, tawakal, syukur, ikhtiar, sabar, dan istiqamah.

 

Dengan menggabungkan psikologi produktivitas modern dan nilai-nilai Islam, konseling tidak hanya membantu individu mengatasi kebiasaan menunda, tetapi juga membentuk pribadi yang produktif, disiplin, sehat secara psikologis, serta konsisten dalam memperbanyak amal saleh sebagai bekal kehidupan dunia dan akhirat.

 

Semoga Allah selalu membimbing dan menguatkan iman kita, sehingga kita tidak terjebak prokrastinasi dalam kebajikan dan aktifitas Sunnah

 

امين يا رب العالمين

 

بارك الله لي ولكم في القرآن الكريم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته انه هو السميع العليم.

 

Khutbah Kedua:

 

الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَشْكُرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ،

وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَبْدُهُ وَرَسُولُه الصَّادِقُ الْوَعْدُ الْأَمِيْنُ مَنْ أَرْسَلَهُ اللهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالىَ، وَذَرُو الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ وَمَا بَطَن، وَحَافِظُوْا عَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِه، وَثَنَّى بِمَلاَئِكَتِهِ الْــمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِه، فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاً عَلِيْمًا: ((إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيّ، يآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا)) أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلىَ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ اَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَات، بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّات، اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزِّنَا وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَن، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَن، عَنْ بَلَدِنَا هَذَاخَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بَلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ الله، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوااللهَ الْعَظِيْمِ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَر

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *