
JABARTODAY.COM – – Konflik yang memanas antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel tidak hanya berdampak pada fluktuasi harga bahan bakar. Dampaknya kini mulai merembet ke sektor pangan, mengancam kenaikan harga buah-buahan dan sayuran. Situasi ini dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia yang berimbas langsung pada biaya produksi dan distribusi di sektor pertanian.
Sejak eskalasi konflik pada akhir Februari 2026, harga minyak mentah telah melonjak lebih dari 40 persen, mencapai kisaran US$65 per barel. Kenaikan ini turut mendorong harga bensin di Amerika Serikat menembus US$4 per galon, sementara harga diesel melampaui US$5 per galon. Namun, efek domino ini tidak berhenti pada bahan bakar minyak.
Gangguan Pasokan Pupuk Picu Kenaikan Harga Pangan
Sekitar sepertiga pasokan pupuk dunia sangat bergantung pada jalur Selat Hormuz, yang sempat mengalami gangguan akibat perseteruan tersebut. Meskipun Iran telah menyatakan bahwa selat tersebut kembali dibuka untuk lalu lintas komersial pada 17 April 2026, kekhawatiran mengenai kelangkaan dan kenaikan harga pupuk tetap membayangi, terutama menjelang musim tanam.
Data dari American Farm Bureau Federation menunjukkan bahwa sekitar 70 persen petani melaporkan kesulitan untuk membeli pupuk yang dibutuhkan akibat kenaikan harga bahan bakar dan pupuk itu sendiri. Pupuk merupakan salah satu komponen biaya operasional terbesar dalam pertanian, dan harganya sangat dipengaruhi oleh harga gas alam yang menjadi bahan baku utama produksi pupuk nitrogen. Kenaikan harga gas alam secara langsung meningkatkan biaya produksi pupuk, sementara harga minyak yang lebih tinggi juga menambah beban biaya transportasi dan distribusi.
“Pupuk berada di hulu sistem pangan global, sehingga ketika gangguan geopolitik menghantam pasar energi atau jalur pelayaran utama, dampaknya dengan cepat masuk ke sektor pertanian,” ujar CEO Phospholutions, Hunter Swisher. Ia menambahkan, “Dampaknya sudah mulai terasa di tingkat petani. Para petani mengambil keputusan secara langsung pada musim tanam ini berdasarkan biaya produksi yang lebih tinggi dan lebih tidak stabil.”
Meskipun Menteri Pertanian Amerika Serikat, Brooke Rollins, menyatakan bahwa sekitar 80 persen petani telah mengamankan pasokan pupuk untuk musim tanam tahun ini sejak musim gugur lalu, pemerintah tetap berupaya memberikan bantuan bagi petani yang masih menghadapi kendala.





