Home » Headline » Indonesia-Korsel Kerjasama Keamanan Kejahatan Siber

Indonesia-Korsel Kerjasama Keamanan Kejahatan Siber

Dekan Sekolah Teknologi dan Informatika ITB, Prof. Dr. Ir. Suwarno (kiri) menerima plakat dari John Choi, Pelaksana Proyek KOICA-ITB, dalam seminar Cyber Security Conference 2013: Enhacement of Cyber Security Capability of Indonesia di Hotel Preanger, Jumat (25/10). Korsel-Indonesia berkomitmen untuk mengatasi masalah cyber crime. (JABARTODAY/AVILA DWIPUTRA)

Dekan Sekolah Teknologi dan Informatika ITB, Prof. Dr. Ir. Suwarno (kiri) menerima plakat dari John Choi, Pelaksana Proyek KOICA-ITB, dalam seminar Cyber Security Conference 2013: Enhacement of Cyber Security Capability of Indonesia di Hotel Preanger, Jumat (25/10). Korsel-Indonesia berkomitmen untuk mengatasi masalah cyber crime. (JABARTODAY/AVILA DWIPUTRA)

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Kejahatan siber alias cyber crime semakin mengerikan di jaman modern sekarang ini, bahkan situs yang disebut tahan terhadap pembajakan atau hacking sudah dapat ditembus oleh para pelaku kejahatan siber. Itulah yang membuat pemerintah concern terhadap masalah ini dan melakukan pencegahan dengan melakukan kerjasama bilateral bersama Korea Selatan.

Salah satu kerjasama itu diperlihatkan dengan diadakannya seminar Cyber Security Conference 2013: Enhacement of Cyber Security Capability of Indonesia di Hotel Preanger, Jumat (25/10). Ini adalah kerjasama The Korea International Cooperation Agency serta Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dan Institut Teknologi Bandung.

Menurut Rektor Universitas Pertahanan, Letnan Jenderal Ir. Drs. Subekti, M.Sc., M.P.A, serangan para peretas ke situs pemerintah Indonesia mencapai 40 juta kali sepanjang tahun lalu. “Cyber crime sudah menjadi kejahatan serius, maka kami di Departemen Pertahanan sangat concern terhadap hal ini,” ujar Subekti dalam jumpa pers.

Dikatakan Subekti, Universitas Pertahanan mendukung gagasan pembentukan Departemen Cyber Crime di Dephan. Ia juga menyatakan, telah bekerjasama dengan ITB dalam menemukan solusi atas permasalahan krusial di bidang teknologi informasi. “Kita juga menyiapkan 15 doktor dari perwira terbaik untuk belajar soal cyber crime tersebut,” terangnya.

Saat disinggung mengapa baru sekarang pihaknya concern terhadap masalah ini, Subekti mengaku, awalnya menganggap cyber crime bukan sebuah ancaman, ternyata kondisinya sudah kritis. Ia menyebut, 99% data TNI dan Kementerian Pertahanan berada di ratusan satelit yang beredar di angkasa. “Jadi keamanan atau proteksi tergantung negara yang memiliki satelit tersebut,” papar Subekti seraya menambahkan bila Indonesia bergantung di satelit negara lain.

Dekan Sekolah Teknologi dan Informatika ITB, Prof. Dr. Ir. Suwarno, menambahkan, sebelum konferensi ini, kerjasama antara Indonesia dan Korsel telah diwujudkan dalam pembangunan Pusat Keamanan Dunia Maya KOICA-ITB di Kampus ITB Jatinangor, Kabupaten Sumedang. “Diharapkan konferensi ini menjadi wadah meningkatkan kesadaran dan kemampuan terhadap keamanan dunia maya di tanah air. Dan wujud perhatian Indonesia terhadap keamanan dunia maya mutakhir,” imbuh Suwarno.

John Choi, Pelaksana Proyek KOICA-ITB, mengungkapkan, konferensi ini akan menyajikan diskusi dan praktek langsung, sehingga seluruh pihak yang berkepentingan, seperti akademisi, akan makin handal dan terampil menghadapi serangan hacker. (VIL)

Komentar

komentar