Home » Headline » Jabar Terancam Kekurangan Garam

Jabar Terancam Kekurangan Garam

garamJABARTODAY.COM – BANDUNG

Diantara berbagai komoditi yang cukup dibutuhkan publik di berbagai negara, termasuk Indonesia, garam merupakan termasuk di dalamnya. Namun, tahun ini, Jawa Barat terancam mengalami krisis garam.Kondisi itu terjadi karena produksi garam Jabar turun drastis. Hal itu diamini Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Garam Indonesia Jabar, Cucu Sutara.

Menurutnya, jika perbandingannya dengan tahun lalu, tahun ini, produksi garam turun.“Secara nasional, tahun lalu, produksi garam sekitar 1,4 juta ton. Sedangkan produksi Jabar, sekitar 125 ribu ton. Sekarang, produksi garam Jabar anjlok 50 persen,” tandas Cucu, di Bandung, Rabu (30/10).

Penjelasan yang sama diutarakan Ketua DPD Asosiasi Petani Garam Seluruh Indonesia Jabar, M Taufikkurahim. Pria asal Cirebon itu menjelaskan, turunnya produksi garam Jabar, yang selama ini, prosesnya berlangsung di Kabupaten Cirebon dan Indramayu, karena pengaruh iklim dan cuaca.

 

Mestinya, sahut Taufik, sapaan akrabnya, panen raya bergulir Agustus-Oktober tahun ini. Namun, katanya, hal itu tidak terjadi karena kondisi cuaca. Dijelaskan, situasi itu terjadi karena proses produksi garam nasional masih sangat bergantung pada kondisi cuaca. “Musim kemarau yang menjadi andalan para petani garam. Sementara saat ini, cuaca tidak menentu. Terkadang terik, hujan, dan mendung. Kondisi itu tidak mendukung proses produksi,” paparnya.

 

Memang, lanjut Taufik, harga garam pada level petani, sejauh ini, stabil, yaitu sekitar Rp 300-350 per kilogram. Namun, akibat situasi tersebut, aku Taufik, para petani garam terancam rugi cukup besar sebagai efek gagal panen.
Tidak hanya cuaca, merosotnya produksi garam juga disebabkan menyusutnya areal lahan. Taufik memperkirakan, tahun ini, di Jabar, hanya terdapat 40% lahan produktif untuk mendukung produksi garam. Di Kabupaten Cirebon, sebutnya, saat ini, luasnya sekitar 3.500 hektare. Sedangkan di Indramayu, tambahnya, luasnya sekitar 2.000 hektare.

Kondisi cuaca pun  memaksa para petani lebih banyak berdiam dan tidak beraktivitas. Saat ini, imbuhnya, jumlah petani garam yang masih beraktivitas sekitar 3.500 orang. Padahal, jumlah total petani sekitar 7.000 orang.

Berbicara tentang kebutuhan, Taufik menjelaskan, ada dua segmen, yaitu industri dan konsumsi masyarakat. Untuk konsumsi masyarakat, ujar dia, rata-rata 3 kilogram per kapita setiap tahunnya. “Totalnya, tinggal kalikan saja dengan jumlah penduduk Jabar,” singkat dia.

Dalam hal industri, kebutuhannya sekitar 24 ribu ton per tahun untuk setiap industri. Secara total, kata dia, kebutuhan garam industri di Jabar sekitar 400-500 ribu ton per tahun. Karena defisit, impor menjadi opsi pemenuhan kebutuhan garam di Jabar. Adalah Australia yang menjadi negara pengekspor garam bagi Indonesia. (VIL)

Komentar

komentar