Home » Headline » Eka Santosa Deklarasikan BOMA Jabar

Eka Santosa Deklarasikan BOMA Jabar

eka santosaJABARTODAY.COM – BANDUNG

Bertempat di Kawasan Hutan Restorasi Alam Santosa di Jalan Pasir Impun Atas No. 5A, Kampung Sekebalingbing, Ds. Cikadut, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Selasa (13/8), telah terbentuk ikatan baru masyarakat adat Jawa Barat yang bernama Baresan Olot Masyarakat Adat (BOMA). BOMA kali ini terdiri atas 22 Kasepuhan Masyarakat Adat di Jabar.

Ke 22 KMA ini terdiri atas: Kampung  Adat Sanaga (Kab.Tasikmalaya), Kampung Adat Dukuh (Kab. Garut),kampung Adat Kuta (kab. Ciamis) Kampung Adat Cikondang (Kab. Bandung), Kampung Adat Ranca Kalong (Kab. Sumedang), Kampung Adat Geger Sunten (Kab. Ciamis), Kampung Adat Cipta Gelar (Kab. Sukabumi), Kampung Adat Cipta Mulya (Kab. Sukabumi) kampung Adat Sinar Resmi (kab. Sukabumi ), Kampung Adat Kawali (kab. Ciamis ),Kampung Adat Cibongas (Kab. Garut ), Kampung Adat Kandang Wesi (Kab. Garut ) Kampung Adat Batu Wangi (Kab. Garut ) Kampung Adat Cigondewah (Bandung ), Kampung Adat Mahmud (Kab. Bandung), Kampung Adat Bumi Alit (Kab. Bandung), Kampung Adat Ci Ela ( Kab. Garut ), Keprabonan Sumedang  Larang (Kab. Sumedang ), Kampung Adat Situs Dangiang (Kab. Garut ), Kampung Adat Pulo (Kab. Garut ), Kampung Adat Sancang (Kab. Garut), Kampung Adat Cibodas (Kab. Ciamis).

Sebanyak 9 Kampung Adat dari 22 Kampung Adat di atas adalah embrio BOMA Jabar yang selama ini tergabung pada Baresan Olot Tatar Sunda yang berdiri sejak 20 Mei 2010. “Ya, BOTS sekarang telah bermetamorfosis menjadi BOMA Jabar. Ini keinginan dari para tetua adat untuk memperluas jangkauan himpunannya di Jawa Barat,” ujar Ketua DPW Partai Nasional Demokrat Jabar, Eka Santosa, yang terpilih sebagai Dewan Pangaping BOMA Jabar.

Dalam deklarasi ini terpilih sebagai Ketua Harian BOMA Jabar, Jajang dari Kampung Adat Sanaga (Kab. Tasikmalaya). “Proses deklarasi berlangsung mulus, dan amanah ini akan saya pegang selama dua tahun, dengan sifat kepemimpinan kolektif kolegial. Masih banyak perjuangan kami yang harus dilakukan di bidang hak ulayat, pertanahan, kebudayaan, hukum, dan pemberdayaan masyarakat yang masih terpinggirkan,” tegas Jajang.

Secara terpisah, Mumuh (42), perwakilan dari Kampung Adat Mahmud merasa gembira bisa bergabung dengan BOMA Jabar. ”Sejak lama pemukiman dan budaya dan adat kami diidentikan dengan kearifan lokal Sungai Citarum. Yang terjadi sekarang, sungai ini rusak berat karena polusi. Ini di luar kemampuan kami membenahinya. Melalui himpunan ini diharapkan bisa lebih keras lagi meperjuangkannya,” imbuh Mumuh. (VIL)

Komentar

komentar

One comment

  1. Sungai merupakan sumber kehidupan, jika perjuangan masyarakat adat ini mampu mewujudkan penataan lingkungan dan pemukiman disepanjang kanan kiri sungai (kakisu) Citarum, luar biasa !!! Masyarakat pasti akan sangat mendukung, inilah reformasi sejati, inilah restorasi sesungguhnya. Bayangkan manfaat yang akan dirasakan oleh masyarakat jawa barat dari hulu sungai citarum Bandung selatan sampai Bekasi meliputi beberapa kabupaten. Saya membayangkan suatu saat kelak air citarum menjadi bening sebening hati masyarakat Jawa Barat , itulah cermin keberhasilan perjuangan.