Home » Ekonomi » Kenaikan Elpiji Pengaruhi Ekonomi Makro

Kenaikan Elpiji Pengaruhi Ekonomi Makro

ekonom Universitas Pasundan, Acuviarta Kartabi. (ISTIMEWA)

ekonom Universitas Pasundan, Acuviarta Kartabi. (ISTIMEWA)

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Usai bersuka cita merayakan pergantian tahun, hampir seluruh kalangan masyarakat, terutama, rumah tangga, terhenyak ketika mengetahui bahwa harga jual elpiji 12 kilogram melejit. Menurut ekonom Universitas Pasundan Acuviarta Kartabi, kebijakan menaikkan harga jual elpiji 12 kilogram pada awal tahun ini merupakan sebuah langkah yang kurang bijak.

“Soalnya, momentumnya tidak tepat. Hal ini dapat berefek negatif pada ekonomi makro. Selain itu, kenaikan harga jual komoditi itu dapat memicu terjadinya inflasi yang tinggi. Tahun lalu saja, inflasi tinggi. Ini memberatkan,” ujar Acu, Jumat (3/1/2014).

Dia menilai, tingginya inflasi berpotensi menimbulkan efek lainnya. Satu diantaranya, pada iklim investasi. Acu berpandangan, situasi yang berkembang saat ini, tentunya dapat menjadi kendala investasi. “Para investor, sangat mungkin, mempertimbangkan rencananya berinvestasi karena kondisi tersebut,” sambung Acu.

Dia meneruskan, berdasarkan pengalaman pemilu 2009 dan 2004, secara umum, laju ekonomi Indonesia melambat. Dia berpendapat, kondisi tahun ini dapat menyerupai 2009 dan 2004. Terlebih, tambah dia, tahun lalu, inflasi di Indonesia tinggi. Di Jabar, data BPS menunjukkan, selama Januari-Desember 2013, inflasi mencapai 9,15 persen.

Acu menyatakan, permasalahan kenaikan harga elpiji 12 kg tidak hanya pada sisi konsumen rumah tangga, yang tergolong mampu. Atau, imbuh dia, juga berdasarkan tidak adanya subsidi pada komoditi tersebut dan menjadi hak prerogatif perusahaan. “Yang harus menjadi perhatian adalah efek dominonya. Kenaikan elpiji 12 kilogram, saya kira, tidak hanya dirasakan rumah tangga mampu, tetapi juga yang kurang mampu,” paparnya.

Tidak tertutup kemungkinan, lanjut dia, situasi yang terjadi saat ini menyebabkan terjadinya penggunaan elpiji 3 kg yang tidak tepat sasaran. Pasalnya, jelas Acu, ada kemungkinan, konsumen elpiji 12 kg beralih pada elpiji 3 kg. Jika peralihan itu terjadi, kata Acu, dampaknya, dapat terjadi kelangkaan elpiji 3 kg. “Otomatis, masyarakat atau rumah tangga kurang mampu turut merasakan imbas kenaikan elpiji 12 kilogram,” tandasnya. (VIL)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.