Home » Ekonomi » Produk Jabar Sulit Bersaing Dengan Produk Impor

Produk Jabar Sulit Bersaing Dengan Produk Impor

deddy widjayaJABARTODAY.COM – BANDUNG

Kehadiran dunia industri menjadi salah satu unsur penting dalam meningkatkan dan terus mendorong perekonomian. Namun, hingga kini, di Indonesia, berbagai kendala masih terjadi berkenaan dengan perkembangan sektor industri, diantaranya upah para pekerja.

Beberapa waktu lalu, kalangan pekerja dan buruh menuntut terjadinya kenaikan upah minimum kota-kabupaten (UMK) dan upah minimum provinsi (UMP). Besarnya kenaikan itu mencapai 50%. Tentunya, bagi para pelaku industri, tuntutan tersebut memberatkan. Pasalnya, jika kenaikan upah begitu tinggi, hal itu dapat berefek pada melejitnya biaya operasional.

“Jika biaya operasional makin tinggi, harga jual produk pun terdongkrak. Akibatnya, produk-produk domestik, termasuk asal Jabar, dapat sulit bersaing dengan komoditi impor,” tandas Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Indonesia Jawa Barat, Deddy Widjaya, di Graha Kamar Dagang dan Industri Kota Bandung, Selasa (29/10).

Deddy menyatakan, melemahnya daya saing produk lokal itu dapat membuat turunnya penjualan. Akibatnya, lanjut dia, barang-barang tidak terbeli. Apabila harga komoditi impor lebih murah, sambung Deddy, sangat mungkin, publik memilih produk impor. Jika itu terjadi, industri sulit berkembang. “Beban pun kian berat,” singkatnya.

Bagi dunia industri, jelas Deddy, jika sebuah daerah tidak lagi memberikan prospek untuk berkembang, terlebih beban operasionalnya kian berat, hal yang dilakukannya, yaitu menutup dan melakukan relokasi. Deddy mengungkap, di Jabar, sejauh ini cukup banyak industri yang relokasi, tidak hanya ke provinsi lain, tetapi juga negara lain.

Deddy memperkirakan, hingga kini, ratusan industri asal Jabar hengkang atau relokasi ke daerah lain. “Misalnya, relokasi ke Jawa Tengah, lalu Myanmar, Vietnam, Kamboja, dan lainnya. Itu karena biaya operasionalnya, termasuk upah, lebih murah daripada di tempat semula,” urai Deddy.

Bagi tenaga kerja, tuntutan kenaikan upah yang terlalu tinggi pun dapat berefek. Mereka, tutur Deddy, dapat kalah bersaing dengan para pekerja asal daerah atau bahkan negara lain. Apalagi, lanjutnya, pada 2015, bergulir ASEAN Economic Community, yang persaingannya tidak hanya berkenaan dengan produk, tetapi juga tenaga kerja.

Berkenaan dengan adanya rencana aksi mogok nasional para pekerja jika tuntutannya berupa kenaikan upah 50 persen tidak terpenuhi, Deddy menyatakan, tentu saja, hal itu dapat menimbulkan kerugian, tidak hanya industri, tetapi juga lainnya. “Misalnya, toko-toko, agen, distributor, dan sebagainya. Secara nominal, jika efek itu meluas, nilainya sangat besar. Dapat mencapai triliunan rupiah,” tandasnya. (VIL)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.