Home » Ekonomi » Jabar Kembangkan Emerging Market

Jabar Kembangkan Emerging Market

Jawa_BaratJABARTODAY.COM – BANDUNG

Potensi ekonomi yang dimiliki negara ini begitu besar. Salah satu produk yang dapat menjadi komoditi unggulan adalah furniture dan kerajinan. Ketua DPN Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI), Soenoto, berpendapat, sebenarnya, produk-produk mebel dan kerajinan nasional, termasuk asal Jawa Barat, memiliki potensi pasar yang luar biasa. Sayangnya, sejauh ini pangsa pasar ekspor mebel nasional masih sangat kecil.

“Secara total, nilai perdagangan mebel dunia mencapai 112 miliar dollar Amerika Serikat. Tapi, Indonesia baru mampu meraih pangsa pasar 1,7 persen. Artinya, nilai ekspor komoditi itu baru senilai 1,7 miliar Dollar AS,” ujar Soenoto pada sela-sela Road Show Trade Expo Indonesia 2013 dan Indonesia International Furniture Expo 2014 di Hotel Horison, akhir pekan lalu.

Soenoto mengatakan, nilai ekspor mebel nasional pun masih kalah oleh Vietnam. Negara Asia Tenggara tersebut, diterangkan dirinya, memiliki nilai ekspor mebel yang lebih tinggi, angkanya mencapai 4 miliar dollar AS.

Dia menilai, masih kecilnya nilai ekspor mebel tersebut merupakan efek kebijakan pemerintah, yaitu dalam hal, ekspor bahan baku mebel, utamanya, rotan. Efeknya, industri mebel tanah air, termasuk Jabar, khususnya, yang menggunakan rotan sebagai bahan baku, babak belur. Namun, pada 2012, pemerintah mencabut kebijakan itu.

Meski begitu, lanjutnya, recovery industri mebel pasca pencabutan ekspor bahan baku rotan tidak dapat berlangsung cepat. Menurutnya, butuh proses agar industri mebel nasional kembali menggeliat. “Tapi, kami tetap optimis bahwa Indonesia dapat menguasai pasar mebel, minimalnya di kawasan ASEAN,” ucap Soenoto.

Keyakinan itu didasari tidak akan berkurangnya kebutuhan mebel. Memang, imbuh Soenoto, saat ini AS melakukan shut down. Akan tetapi, tambahnya, hal itu tidak terlalu berpengaruh. Pasalnya, permintaan mebel tidak hanya oleh AS, tetapi negara-negara lain. “Itu adalah emerging market. Pasar itu yang harus termanfaatkan. Negara-negaranya, antara lain, Amerika Selatan, Afrika, dan Timur Tengah,” cetus Soenoto.

Adanya pemanfaatan emerging market, tegas Soenoto, pihaknya memproyeksikan nilai ekspor mebel dan kerajinan nasional dapat bertumbuh 125 persen per tahun. “Dalam kurun waktu lima tahun, proyeksi kami, nilai ekspornya mencapai 5 miliar dollar AS,” tambahnya.

Untuk merealisasikannya, seperti diutarakan Soenoto, para pelaku industri mebel dan kerajinan harus terus berinovasi dalam mendesain produk. Soenoto menyarankan para pebisnis mebel dan kerajinan untuk tidak mencontek desain. “Itu merugikan karena daya saing produk turun,” tandasnya. (VIL)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.