Ternyata, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah benar-benar memiliki daya tarik luar biasa bagi sektor perbankan, tidak hanya perbankan nasional, tetapi juga asing. Adalah , Commonwealth Bank Indonesia, yang merupakan anak perusahaan Commonwealth Bank Australia Group, yang menjadikan sektor tersebut sebagai target pasar pengembangan bisnisnya di Indonesia, termasuk Jawa Barat, khususnya Kota Bandung.
“Sejak 14 tahun silam atau 2000, kami beroperasi di Bandung. Potensi di Bandung tergolong besar. Selama beroperasi di Bandung, sekitar 12 ribu lebih nasabah kami layani,” tukas Executive Vice President Head of Retail Banking & Services CBI, Anwar Zaenudin, pada sela-sela peresmian Kantor CBI Cabang Dago, Senin (15/9/2014).
Anwar mengungkap, selama beroperasi di Bandung, pihaknya, yang memiliki aset Rp 785 miliar, menggelontorkan dana kredit bagi para pelaku UKM. Hingga Agustus 2014, nilainya, sebut dia, mencapai ratusan miliar. Tepatnya, sekitar Rp 160 miliar kredit produktif.
Dikatakan, selama ini, khusus Bandung, pihaknya mengoperasikan beberapa jaringan kantor. Selain cabang terkini, yaitu Dago, ungkap dia, pihaknya pun beroperasi di beberapa titik Kota Parisj van Java, yaitu Jalan Buah Batu, kawasan Sumber Sari, Jalan Soekarnohatta Bandung, dan Jalan Jenderal Sudirman.
Sementara itu, Presiden Direktur CBI Tony Costa berpendapat, sejauh ini, Bandung merupakan kota terbesar ketiga. Bandung pun, sambung dia, merupakan salah satu metropolitan terbesar di tanah air. Menurutnya, indikator hal itu tercermin pada perkembangan selama 2013.
Tahun lalu, sahut Tony, pertumbuhan ekonomi Bandung melebihi angka rata-rata. Tidak itu saja, Tony menilai Bandung sebagai salah satu sentra pelaku UKM yang terus berkembang. Dia berpandangan, dalam mengembangkan bisnisnya, kalangan UKM membutuhkan akses pendanaan perbankan.
Tony meneruskan, selain UKM, Bandung pun terkenal sebagai kiblatnya industri kreatif. Misalnya, ucap dia, yang bergerak dalam bidang kuliner, busana, dan sebagainya. Potensi industri kreatif, seru Tony, begitu terbuka dan besar.
Buktinya, tahun lalu, industri kreatif berkontribusi positif pada total Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, yaitu sebesar 7,05 persen. Kontribusi lainnya, kata Tony, dalam hal penciptaan lapangan kerja. “Industri kreatif mampu menyerap 11,9 juta tenaga kerja atau sekitar 10,7 persen tenaga kerja nasional. Industri itu pun membuka 5,4 juta jenis usaha atau 9,7 persen jumlah usaha nasional, yang mayoritas merupakan UMKM,” tutup Tony. (ADR)
