
Pada triwulan awal tahun ini, lembaga perbankan itu sukses mencatat pertumbuhan laba. “Hingga Maret 2016, kami membukukan laba bersih seyelqh pajak senilai Rp 814 miliar. Jumlah itu lebih tinggi 18 persen daripada pencapaian Maret 2015,” tandas Vera Eve Lim, Chief Financial Officer dan Direktur Danamon, Rabu (27/4).
Salah satu hal yang membuat terjadinya peningkatan laba bersih, jelas Vera, adalah adanya langkah-langkah efisiensi yang berkelanjutan. Misalnya, tutur Vera, pada selama Januari-Maret tahun ini pihaknua mampu menekan biaya operasional hingga 9 persen lebih rendah daripada periode sama tahun lalu, yajtu menjadi Rp 2,1 triliun.
Lalu, bagaimana dengan kredit? Vera mengutarakan, pada tiga bulan awal 2016, secara total, nilainya Rp 125,8 triliun. Penyaluran itu, ucapnya, terdiri atas kredit usaha kecil dan menengah (UKM) senilai Rp 23 triliun, kredit korporasi sebesar Rp 17,4 triliun, kredit komersial senilai Rp 15,4 triliun.
Kemudian, lanjutnya, kredit syariah, yang merupakan bagian kredit segmen UKM dan komersial, angkanya Rp 2,9 triliun. Selanjutnya, ujar dia, kredit mikro, yang penyalurannya melalui Danamon Simpan Pinjam (DSP), berada pada level Rp 13,3 triliun.
Tentang funding, Vera menyatakan, pada trwiwulan I 2016, pihaknya mencatat giro dan tabungan (CASA) sejumlah Rp 45,9 triliun. Sementara deposito, imbuhnya, sejumkah Rp 65,1 triliun.
Untuk mendongkrak kinerja bisnis tahun ini, Vera menegaskan, pihaknya fokus pada sektor komersial, konsumer, UKM, dan Transaction Banking, yang merupakan andalan baru Bank Danamon. Menurutnya, andalan-andalan baru itu melengkapi dan memperkuat segmen mass market. “Kami pun mengembangkan fitur layanan transaction banking, yaitu fasilitas trade finance dalam mata uang Yuan. Fitur itu sebagai alat dukung bisnis lokal dalam perdagangan dengan Cina,” tutupnya. (ADR)