
JABARTODAY.COM – BANDUNG — Terjadinya perkembangan berbagai kondisi, semisal politik di Amerika Serikat (AS) berakibat pada ekonomi global. Imbasnya, perekonomian di Indonesia pun terdampak. Salah satu buktinya, terjadi perlambatan kinerja dan performa bisnis pada beberapa sektor, satu di antaranya, jasa keuangan. Adalah PT Bank Nusantara Parahyangan (BNP) Tbk yang terdampak kondisi makro ekonomi.
“Memang benar. Kondisi makro ekonomi cukup berpengaruh pada kinerja bisnis kami. Persaingan suku bunga yang kian kompetitif dan prinsip kehati-hatian yang terus kami terapkan, juga cukup berefek,” tandas Direktur Bisnis PT BNP Tbk, Kevin C Tatang, pada sela-sela Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan Periode Desember 2016 dan Triwulan I 2017, di Hotel Hilton, Jalan HOS Cokroaminoto Bandung, belum lama ini.
Menurutnya, efek makro ekonomi itu salah satunya terlihat pada realisasi penyaluran kredit. Diutarakan, nominal penyaluran kredit hingga triwulan I 2017 sejumlah Rp 5,2 triliun. Angka itu, jelasnya, lebih lambat 16,27 persen daripada realisasi hingga Maret 2016 dan lebih rendah 2,24 persen daripada realisasi akhir Desember 2016.
Pihaknya mencatat, ujarnya, hingga Maret tahun ini, penyaluran tertinggi yaitu kredit modal kerja, yang komposisi penyalurannya 69,53 persen. Lalu, lanjutnya, tujuan Investasi sebesar 16,13 persen. “Sementara sisanya sebesar 14,35 persen adalah sektor konsumsi,” sahutnya.
Selain kredit, lanjutnya, makro ekonomi pun berimbas pada tingkat Non-Performance Loans (NIPL) alias kredit bermasalah. Diungkapkan, NPL Gross mencapai 4,97 persen, dan NPL Netto 4,43 persen. “Itu masih di bawah ketentuan Bank Indonesia, yaitu sebesar 5 persen. Tapi, kami menyiapkan langkah-langkah untuk menekan NPL,” tegas dia. (win)