Namun, Kadin Jabar justru menilai BI tidak memahami kondisi riil lapangan. “Itu karena BI kurang mau mendengar keluhan para pengusaha, utamanya, para pelaku UMKM. Ini berarti, sinergitas antara BI dan dunia usaha kurang terjalin. Akibatnya, dunia usaha Jabar mengalami kondisi seperti saat ini. Ketika rupiah melemah, BI menganggap sebagai hal biasa. Padahal, industri mengalami keterpurukan,” kritik Wakil Ketua Kadin Jabar Bidang KUMKM, Iwan Gunawan, dalam seminar “Menyikapi Penguatan Dollar AS terhadap Dunia Usaha di Indonesia.” di Hotel Golden Flower Jalan Asia Afrika, Bandung, belum lama ini.
Iwan mengutarakan, sebenarnya, keterpurukan dunia usaha ini mulai terasa sejak awal tahun. Bahkan, tidak sedikit pengusaha yang ingin menutup usahanya dan menjual aset mesin . “Tapi setelah mereka hitung, tidak cukup untuk menutupi uang pesangon PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Jadi, tolong, kami harap BI mau mendengarkan pengusaha,” ujarnya mewakili sekitar 100 pengusaha yang hadir dalam diskusi itu.
Syahman Perdymar, Asisten Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, dolar AS menguat hampir pada semua mata uang. Sisi lain, harga jual 8 komoditas ekspor nasional, di antaranya nikel, batu bara, alumunium, dan kopi sedang anjlok Syaman menilai, situasi itu membuat ekspor masih berat karena turunnya harga ditambah belum pulihnya demand global.
Menurutnya, saat ini, rupiah terdepresiasi 6,5 persen. Angka itu, ucapnya, cukup tinggi. Akan tetapi, katanya, kondisi itu masih lebih baik daripada negara lain. Saya yakin kita tidak akan jatuh lagi seperti 1998. Kondisi sekarang jauh berbeda,” tutupnya. (ADR)