
Ketua Pengcab Perbasi Kota Bandung Djadjat Sudrajat menyatakan, uang tersebut adalah hasil kesepakatan dari orang tua dan tidak ditentukan nominalnya. Dirinya membantah, jika pemain yang masuk ke dalam tim adalah yang dapat membayar pungutan tersebut. “Soal pungutan keluar setelah seleksi selesai, saat seleksi kita tidak bicara duit. Baru saat tim terbentuk kita kumpulkan orang tua berunding, dan pengurus tidak tahu sama sekali berapa jumlah uangnya,” tukas Djadjat, di kawasan Pajajaran, Kamis (23/2).
Uang yang dikumpulkan berdasarkan komitmen bersama itu digunakan untuk membiayai anak-anaknya saat berlaga di Kejurda maupun Kejurnas, dan tidak ada unsur paksaan sama sekali. Sebelumnya, ada tudingan jika tidak membayar, anaknya yang terpilih tidak akan dibawa menuju kejuaraan, bahkan orang tuanya akan terus ditagih perihal pungutan itu. “Kalaupun kita mengejar-ngejar, itu hanya untuk memastikan, apakah yang bersangkutan sanggup membayar atau tidak. Kalau tidak pun tidak apa-apa,” tepis Djadjat.
Mengenai seleksi pemain, pihaknya memberikan wewenang ke Bidang Pembinaan dan Prestasi untuk mencari pemain yang berpotensi untuk berkompetisi di Kejurnas. Dan, pihaknya mencari pemain yang berkualitas ke sejumlah klub basket di Kota Bandung. “Jadi tidak ada itu, pemain yang masuk tim, pemain yang punya duit. Bahkan, kita memasukkan surat ke klub-klub perihal seleksi tersebut,” beber Djadjat. (vil)