
“Kam fokus pada hal ini. Ada 20 juta orang angkatan kerja,” tandas Kepala Disnakertrans Jabar, Ferry Sofwan Arief, belum lama ini.
Diutarakan, puluhan juta angkatan kerja itu terdiri atas 18.791.482 orang yang bekerja. Sisanya, lanjut dia, merupakan pengangguran terbuka, yang berdasarkan data Agustus 2015, jumlahnya sebanyak 1.794.874 orang.
Kalangan pengangguran terbuka, tuturnya, bisa merupakan mereka yang baru lulus kuliah atau sekolah dan belum memperoleh pekerjaan, yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), atau yang jenis pekerjaannya tidak sesuai kemampuannya.
Ferry meneruskan, pihaknya siap melakukan pengawalan angkatan kerja di Jabar. Fokusnya, jelas dia, tidak sekedar pengangguran, tetapi juga orang yang bekerja. Bagi yang sudah bekerja, jelasnya, bentuk pengawalannya berkaitan dengan upah, utamanya, yang nilainya belum sesuai upah minimum kota-kabupaten, termasuk hak-hak lainnya yang belum terpenuhi. Sedangkan fokus pada pengangguran, tambahnya, pihaknya siap membantu supaya kalangan tersebut memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya.
Melihat kondisi itu, Ferry mengungkapkan, pihaknya membagi dua kelompok besar yang menjadi garapannya. Yakni, ungkapnya, jalur pekerja formal sesuai kejuruan, seperti industri otomotif. Berkaitan hal itu, pihaknya menyiapkan sejumlah program pelatihan. Selain itu, imbuhnya, pihaknya pun menyiapkan workshop sebagai balai pelatihan kerja. “Pasca pelatihan, kami menguji mereka melalui uji kompetensi. Ini supaya mereka lebih berdaya saing,” tukasnya.
Kelompok berikutnya, kata Ferry, yaitu mendorong sektor yang bersifat mandiri. Upayanya, ucapnya, hampir sama, yaitu
pelatihan. Tidak itu saja, ujarnya, pihaknya berencana menggulirkan program padat karya di daerah tertentu yang alami paceklik panen. (ADR)