“Kehadiran praktisi televisi akan memberi makna dan nuansa tersendiri bagi mahasiswa yang mengontrak mata kuliah English for Journalism dan English for Broadcasting, dua mata kuliah pilihan yang wajib diikuti mahasiswa prodi bahasa Inggris UNIKU. Banyak ilmu dan pengalaman yang bisa digali tentang bagaimana cara kerja awak jurnalis dan redaksi televisi dalam memproduksi dan menyuguhkan berita kepada khalayak. Sehingga pendalaman teoretis yang diperoleh di kelas mendapat relevansinya dengan pengalaman praktis para praktisi di lapangan khususnya kalangan jurnalis,” ujar Fahrus Zaman Fadhly, dosen pengampu mata kuliah English for Journalism Prodi PBI FKIP UNIKU kepada Jabartoday.com, di Kuningan, Sabtu (14/11/2013).
“Televisi harus menjadi agent of social transformation. Televisi yang masuk ke ruang-ruang privat warga negara harus turut bertanggung jawab dalam memperbaiki tata kehidupan masyarakat yang sudah carut-marut. Sebaliknya, televisi jangan menjadi agent of decay, agen perusak moral dan akhlaq masyarakat,” jelas Fahrus yang juga Caleg DPR RI Partai NasDem No urut 3 Dapil X Jabar (Kuningan, Ciamis, Banjar, dan Pangandaran).
Ke depan, jelas fahrus, pihaknya akan juga mengundang para praktisi baik media elektronik, cetak maupun online, untuk bersama-sama membangun masyarakat Indonesia khususnya Kuningan ke arah yang lebih baik. Media harus menjadi mediator konflik bukan sebagai pemicu konflik.
“Kita semua mengemban amanah untuk melakukan perubahan di tengah-tengah masyarakat. Kalangan media tidak boleh menjadi bagian dari konflik, tetapi harus menjadi aktor penting dalam menyelesaikan konflik di masyarakat. Tugas kita sebagaimana Allah SWT tekankan kepada kita adalah, fa alishuu baina ahawaikum, atau mendamaikan kehidupan antar elemen di masyarakat,” tukasnya.
Ketua Prodi PBI FKIP UNIKU, Erwin Oktoma mengungkapkan, kehadiran jurnalis MetroTV di kampus UNIKU merupakan rintisan kerjasama antara prodi PBI UNIKU dengan kalangan media.
“Kuliah umum ini merupakan wahana silaturrahim akademik dan pengalaman antara akademisi dan praktisi. Konvergensi keduanya akan memperkaya pengetahuan mahasiswa bagaimana sebuah media bekerja dan menjaga prinsip-prinsip dan kode etik jurnalistik,” ujar Erwin (ASEP SUPRIADI)