JABARTODAY.COM – BANDUNG — Saat ini, pemerintah gencar melakukan pembangunan infrastruktur jalan tol. Yang terakhir diresmikan pemerintah adalah ruas Cikampek-Palimanan (Cipali). Saru ruas tol lain yang ingin pemerintah resmikan pada 2019 yaitu Merak-Banyuwangi sepanjang 1.200 kilometer.
Menurut Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Serikat Pekerja Kereta Api (SPKA), Syafriadi, kehadiran ruas tol berpengaruh pada kinerja PT Kereta Api Indonesia (KAI) (Peraero). “Sebagai contoh, beroperasinya Tol Cipali membuat kinerja PT KAI daerah Operasional (Daop) 3 Cirebon negatif 30-40 persen. Apabila ruas tol berlanjut sampai Semarang, yang terpengaruh adalah PT KAI Daop 4 Semarang,” tandas Syafriadi pada sela-sela Pelantikan Pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) SPKA, di Arion Swiss Hotel, Jalan Oto Iskandardinata Bandung, Rabu (18/1).
Dia berpendapat, efek hadirnya tol karena masyarakat mementingkan waktu tempuh yang lebih cepat. Pelayanan pun, sambungnya, bukan lagi menjadi hal utama. Karenanya, ujar Syafriadi, agar lebih bersaing dengan moda darat, idealnya, kualitas prasarana KA lebih meningkat agar makin berdaya kompetitif. Selain itu, sambungnya, PT KAi pun harus berupaya keras mendongkrak pangsa pasarnya.
Pada sisi lain, imbuh dia, pemerintah menginginkan adanya efisiensi transportasi. Adalah KA, kata Syafriadi, yang merupakan opsi paling tepat untuk efisiensi transportasi. “Kami harap, pemerintah pun fokus pada peningkatan prasarana KA,” ucapnya.
Memang, ungkapnya, pemerintah berwacana membangun KA semicepat yang berkecepatan 150 kilometer per jam. Apabila wacana itu terealisasi, tukasnya, kehadiran tol bukan hambatan karena waktu tempuh KA mebjafi jauh lebih cepat.
Untuk itu, beber Syafriadi, pihaknya berencana mengirimkan surat kepada Kementerian Perhubungan. “Isinya meminta audensi dengan pemerintah berkaitan dengan program dan RencN angkutan massal, termasuk wacana KA semicepat,” tutupnya. (win)
