Agar dapat tetap mencatat kinerja positif, minimalnya, tidak mengalami pelemahan, menjaga stabilitas pasar ketika persaingan semakin ketat, termasuk saat ajang Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 bergulir, menjadi salah satu opsi yang dicanangkan para pelaku bisnis. Hal itu pun dilakukan PT Bank Pembangunan Daerah Jabar-Banten Tbk atau bank bjb.
“Benar. Persaingan kian ketat. Apalagi, tahun depan, bergulir ajang AEC. Ada berbagai upaya yang kami lakukan agar kinerja tetap positif saat agenda pasar bebas negara-negara ASEAN berlangsung,” ujar Ketua Umum Serikat Karyawan bank bjb, Fahmi Bagus Mahesa, pada sela-sela Traditional Fair 2014 di Kantor Pusat bank bjb, Jalan Naripan, Sabtu (18/10/2014).
Upaya-upaya itu, ungkap Fahmi, diantaranya, menjaga captive market agar competitive advantage tetap terjaga. Menjaga captive market, jelasnya, menjadi sebuah jurus ampuh untuk menjaga pasar agar tidak ‘terinvasi’ perbankan-perbankan asing. Selain itu, tambahnya, captive market pun merupakan implementasi filosofi yang menjadi tema Traditional Fair tersebut, yaitu Hayu Jaga Lembur Urang.
Dia berpendapat, makna Hayu Jaga Lembur Urang sangat dalam. Artinya, jelas dia, kini, bank bjb adalah aset penting, tidak hanya milik masyarakat Jabar-Banten, tetapi juga nasional. Lembaga perbankan milik BUMD Jabar-Banten itu pun, sambungnya, juga menjadi salah satu penggerak perekonomian, tidak hanya berskala lokal dan regional, tetapi juga nasional. “Bahkan, saat MEA 2015 bergulir, sangat mungkin, kami menjadi penggerak ekonomi internasional,” ucapnya.
Sementara itu, pada ajang Traditional Fair 2014, bank bjb melakukan pemecahan rekor MURI. Bentuk pemecahan rekor tersebut yaitu memainkan kesenian tradisional jenis karinding, yaitu sebanyak 1.500 orang, yang keseluruhannya merupakan karyawan bank bjb. (ADR)
