
Hari ini, Rabu, 25 Maret 2026, bertepatan dengan 6 Syawal 1447 Hijriyah, menjadi sebuah perjalanan yang bukan sekadar langkah kaki, melainkan perjalanan jiwa yang menembus ruang sejarah dan keheningan makna. Bersama istri, saya menapaki kaki Jabal Nur—gunung cahaya yang menjadi saksi bisu turunnya wahyu pertama di Gua Hira, tempat Nabi Muhammad menyendiri dalam tafakur panjang, mencari kebenaran di tengah gelapnya zaman.
Langit siang begitu terik, seakan menguji kesungguhan langkah. Dalam keadaan berpuasa, setiap pijakan terasa berat, setiap tarikan napas menyimpan kelelahan. Istri yang dengan penuh keikhlasan memilih tidak melanjutkan pendakian, justru menjadi sumber kekuatan batin—mengirimkan dorongan yang tak kasatmata, namun terasa kuat dalam jiwa. Hingga pada titik tertentu, ketika tubuh mencapai batasnya, saya memilih berhenti di sekitar tiga perempat perjalanan. Sebuah keputusan yang bukan tentang menyerah, melainkan tentang kebijaksanaan membaca tanda-tanda diri.
Di Gua Hira, sejarah besar umat manusia bermula. Dalam kesunyian yang hening, turunlah wahyu pertama yang menggetarkan langit dan bumi:
“Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq…”
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”
(QS. Al-‘Alaq: 1)
Ayat ini bukan sekadar perintah membaca, melainkan seruan peradaban—bahwa perubahan besar selalu berakar dari ilmu, kesadaran, dan hubungan yang mendalam dengan Sang Pencipta. Nabi Muhammad yang saat itu belum pernah membaca dan menulis, justru dipilih untuk membawa risalah agung yang kelak menerangi dunia.
Dalam sebuah riwayat yang tercantum dalam Sahih al-Bukhari, diceritakan bagaimana Rasulullah SAW pulang dalam keadaan gemetar setelah menerima wahyu pertama, seraya berkata, “Zammiluni, zammiluni” (Selimuti aku, selimuti aku). Momen ini menunjukkan bahwa bahkan seorang manusia paling mulia pun merasakan getaran dahsyat saat bersentuhan dengan wahyu Ilahi—sebuah pengalaman yang melampaui nalar dan kekuatan biasa.
Para ulama dan pemikir Islam banyak menaruh perhatian pada peristiwa Gua Hira sebagai fondasi spiritual dakwah. Ibn Kathir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa uzlah (menyendiri) Rasulullah di Gua Hira merupakan bentuk persiapan ruhani sebelum menerima beban risalah yang sangat besar. Sementara itu, Sayyid Qutb dalam Fi Zilal al-Qur’an menggambarkan peristiwa turunnya wahyu sebagai “ledakan cahaya” yang mengubah arah sejarah manusia—dari jahiliyah menuju peradaban yang berlandaskan tauhid.
Seorang pendaki dari Bukittingi yang saya temui menyarankan untuk kembali mendaki di malam hari—bada Isya atau sekitar pukul sepuluh malam. Saran sederhana itu terasa seperti isyarat: bahwa dalam kegelapan malam, mungkin ada ketenangan yang lebih dalam, sebagaimana Rasulullah dahulu memilih sunyi untuk mendekat kepada Rabb-nya. Bukankah Allah sendiri berfirman:
“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.”
(QS. Al-Muzzammil: 6)