Indahnya Mudik Kala Lebaran

Warga Cileungsir, Rancah, Kabupaten Ciamis yang tinggal di kampung halaman dan yang menjadi perantau, berbaur mengikuti halal bi halal, di halaman Balai Desa Cileungsir, Senin (20/8). (DEDE SUHERLAN/JABARTODAY.COM)

JABARTODAY.COM – CIAMIS

COBALAH tanya kepada orang Mesir, Turki, Arab Saudi, atau Brunai Darussalam dan Malaysia, pasti di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam itu tak dikenal kata bernama mudik. Runtunan kata berjumlah lima buah buah itu memang hanya milik orang Indonesia. Seakan sudah menjadi panggilan jiwa, mudik sudah menjadi tradisi yang selalu hadir setiap tahun.
Pengalaman bermudik ria sudah menjadi tradisi bagi orang Indonesia. Di dalamnya bukan sekadar pulang kampung atau berbasa-basi menengok sanak-saudara yang tinggal di tanah kelahiran. Ada nilai-nilai lain yang menjadikan mudik mendapat tempat tersendiri bagi para perantauan yang mengembara ke berbagai tempat di luar tanah leluhur, tempat menghabiskan masa kecil.

Simak saja tuturan Hendih Esa Budiarsa (39), yang jauh-jauh dari Palu, Sulawesi Tenggara, tetap mudik ke kampung halaman di Dusun Cileungsir, Desa Cileungsir, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis, pada lebaran tahun ini. Jarak ribuan kilometer antara Palu – Ciamis tak menghalangi niatnya untuk kembali menginjakkan kaki di lembur kameumeut.

“Ada kerinduan tersendiri terhadap lembur yang hanya bisa diobati dengan mudik. Memang, untuk saat ini, teknologi komunikasi sangat menggampangkan kita untuk menjalin komunikasi dengan siapapun, termasuk saudara dan kerabat di kampung halaman. Namun, dengan cara melakukan ritual mudik, ada sesuatu yang berbeda. Mudik menjadi obat penawar terhadap dahaga silaturahmi dengan keluarga dan kerabat yang jarang berjumpa,” kata Esa, Rabu (22/8).

Ya, itulah uniknya mudik. Perjumpaan melalui tatap muka langsung dengan sanak saudara menjadi pengobat rindu terhadap keeratan silaturahmi dan kebersamaan. Saat mudik, bukan sekadar berbasa-basi berjumpa dengan kerabat, bersalaman, dan sun pipi kanan serta kiri. Mudik menjadi momen untuk menapaktilasi perjalanan hidup yang telah dilalui.

Saat bertemu dengan orangtua dan kerabat, akan terlintas suasana masa kecil, masa-masa merepotkan orangtua dengan berbagai tingkah dan polah anak-anak. Pada saat itulah, momen untuk kembali menyadarkan diri bahwa adanya kita saat ini berawal dari pijakan susah payahnya orangtua dalam membesarkan putra-putrinya, akan menyeruak. Tetesan air mata saat sungkem kepada orangtua, menjadi momen untuk menggugah kesadaran terhadap jati diri.

Tak hanya itu, mudik pun menjadi wahana untuk kangen-kangenan dengan kawan-kawan masa kecil. Masa lalu yang tercatat dalam memori, menjadi penghias pembicaraan yang semakin mengakrabkan ikatan kekeluargaan.
Bagi Anwar Hidayat (32) misalnya, perjumpaan dengan kawan-kawan di kampung halaman menjadi energi yang tak ternilai.

“Keakraban dengan kawan-kawan tak akan lekang oleh waktu tak akan lekang oleh waktu. Lebaran dan mudik menjadi penyemangat untuk menghadapi masa depan. Kita masih memiliki keluarga dan kawan-kawan yang sangat begitu menghargai betapa pentingnya kekerabatan,” kata pria asal Cileungsir, Ciamis yang kini tinggal di Jakarta itu.
Lalu, pertanyaan pun akan muncul, apakah mudik akan tetap lestari? Atau, mudik akan tenggelam seiring semakin berkembangnya zaman?

Saat JABARTODAY.COM menanyakan ikhwal itu kepada, Sutria Malabari (48), pemudik asal Cileungsir, Ciamis, yang saat ini berdomisili di Tangerang, dengan penuh keyakinan berkata, “Mudik mah tidak akan hilang sampai kapanpun Kang…Selama masih ada orang kampung yang merantau ke kota, pasti mudik akan tetap hadir. Mudik mah sudah tradisi,” ujar Sutria.

Menyikapi fenomena mudik, sosiolog jebolan Unpad, Dede Kuswanda, mengatakan, mudik menjadi tradisi yang selalu hadir setiap tahun. Tanpa mudik, kata dia, serasa ada sesuatu hilang.

“Melalui mudik, kerinduan untuk menjalin silaturahmi yang tulus bisa muncul. Itulah yang menjadi perangsang kepada para perantau untuk mudik. Di tengah silaturahmi yang semakin renggang akhir-akhir ini, mudik menjadi oase yang tak ternilai harganya,” kata Dede. (DEDE SUHERLAN)

Related posts