JABARTODAY.COM – BANDUNG — Untuk melakukan stabilisasi harga, pemerintah memiliki sebuh jurus, yaitu menggelar Operasi Pasar (OP). Masih mahalnya harga jual daging sapi mendorong pemerintah untuk menggulirkan OP Daging Sapi. Pada Minggu (9/8), pemerintah melalui Perum Bulog melangsungkan OP Daging Sapi di 3 kota, Bandung, Jakarta, Serang. Khusus Bandung, bergulir di Pasar Kosambi, Sederhana, dan Cihaurgeulis (Suci).
Namun, pelaksanaan OP Daging Sapi di Pasar Kosambi sempat mendapat reaksi dan protes para pedagang. Pasalnya, jelas dia, mereka menerima Surat Edaran (SE) Asosiasi Pedagang Daging Sapi Indonesia (APDASI) Kota Bandung untuk melakukan aksi mogok selama beberapa hari. Mereka beranggapan aksi mogok itu imbauan pemerintah. Data menunjukkan, SE APDASI Kota Bandung itu tidak ditandatangani Ketua DPD APDASI Kota Bandung. Dalam SE itu hanya tertera Koordinator Aksi.
Namun, setelah berdiskusi dengan jajaran Bulog Divis Regional (Divre) Jabar dan Dinas Perindustrian Perdagangan (Indag) Jabar, termasuk kepolisian, akhirnya, para pedagang memahami penyelenggaraan OP Daging Sapi tersebut. “Pemerintah tidak pernah menerbitkan SE untuk aksi mogok. Kami hadir justru untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” tegas Wahyu,” tandas Direktur Pengadaan Perum Bulog, Wahyu.
Kepala Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Jabar, Alip Afandi, mengemukakan, pada dasarnya, jajarannya menggulirkan OP Daging Sapi tidak lain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menekan mahalnya harga jual komoditi itu, yang saat ini, rata-rata sekitar Rp 12-130 ribu per kilogram. “Jika besok (Senin, 10/8), para pedagang kembali beraktivitas, kami stop OP. Jika masih melakukan aksi mogok, kami lanjutkan,” tegasnya.
Menanggapi reaksi para pedagang, Alip menegaskan, pihaknya siap menggandeng para pedagang daging sapi untuk menggelar OP Daging Sapi. Pihaknya, ucap dia, siap mempercayakan pelaksanaan OP kepada para pedagang. Jika itu terjadi, kata Alip, pihaknya tetap melakukan kontrol dan monitoring pelaksanaannya.”Harga jualnya di bawah Rp 100 ribu per kilogram. Para pedagang siap menjualnya seharga Rp 95 ribu per kilogram. (ADR)