Tjetje: “Panggung Jakarta” Berbeda dengan “Panggung Jabar”

  • Whatsapp
sorotnews

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Fenomena Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta yang dimenangkan oleh pasangan Jokowi-Ahok berbeda dengan Pilgub Jabar 2013.

“Secara demografis,  kultural dan anatomi parpol pendukung antara panggung Jakarta dengan panggung Jabar itu berbeda sama sekali,” ujar politisi senior yang juga sesepuh Jawa Barat, Tjetje Hidayat Padmadinata kepada Jabartoday.com, Jumat (21/9).

Secara demografis, jelas Tjetje, antara Jakarta dan Jawa Barat memiliki perbedaan jumlah dan sebaran penduduk yang signifikan. Jumlah penduduk propinsi DKI Jakarta hanya sekitar 10 juta, sementara Jawa Barat sebanyak 45 juta. Penduduk dengan suku Jawa cukup dominan yakni sekitar 33 %, disusul Betawi 23 %, Sunda 19%, selebihnya campuran dari berbagai suku di Indonesia.

Ia menjelaskan, secara kultural, Jakarta itu sama seperti kota New York di AS yang merupakan kota perdagangan dan kota pelabuhan yang merupakan kota metropolitan dengan budaya metropolit pula. Sementara penduduk Jawa Barat tersebar di pedesaan dengan kultur pertanian atau agraris.

“Jakarta itu seperti New York City, budayanya urban society yang berbeda sama sekali dengan Jawa Barat yang agraris. Selain itu, secara anatomi partai, belum tentu pasangan  calon yang didukung oleh partai besar atau partai pemenang pemilu di DKI akan memenangi kontestasi di Pilgub DKI,” jelas Tjetje.

 

 

 

Foke Simbol Kemapanan, Jokowi Simbol Harapan Baru

Lebih lanjut Tjetje menjelaskan, Pilgub DKI Jakarta putaran kedua merupakan pertarungan antara simbol perlawanan rakyat terhadap  kemapanan (establishment). Citra petahana (incumbent) yang dinilai korup dan anti perubahan mendapat perlawanan dari rakyat DKI Jakarta yang sebagian besar menghendaki perubahan signifikan atas berbagai persoalan yang mendera ibukota.

“Bagi publik pemilih Jakarta, Foke itu simbol kemapanan, sementara Jokowi itu simbol harapan baru yang menjanjikan masa depan Jakarta yang lebih baik. Karena itu, wajar saja Jokowi lebih dikehendaki untuk memimpin DKI Jakarta ketimbang Foke,” jelas Tjetje.

Karena itu, kata dia, ekploitasi sentimen SARA yang dilancarkan atas pasangan Jokowi-Ahok tidak mempan, karena masyarakat Jakarta makin rasional.

“Apalagi kesan Jokowi-Ahok dikeroyok seperti yang dialami SBY pada pilpres 2004, makin mendatangkan simpati besar rakyat untuk menjatuhkan pilihannya. Naluri politik saya sejak awal, Jokowi-Ahok lah yang akan memenangi kontestasi ini,” ungkapnya. (FZF)

 

Related posts