Thursday , 21 November 2019
Home » Sosok » Tjetje H. Padmadinata: Jawa Barat Krisis Identitas, Prestasi Aher Biasa-Biasa Saja

Tjetje H. Padmadinata: Jawa Barat Krisis Identitas, Prestasi Aher Biasa-Biasa Saja

Refleksi HUT ke-67 Propinsi Jawa Barat, 19 Agustus  2012

http://hizbut-tahrir.or.id

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Minggu, 19 Agutus 2012 adalah Hari Ulang Tahun (HUT)   Provinsi Jawa Barat ke-67 atau dua hari setelah HUT Republik Indonesia.
Walaupun sudah berdiri sejak zaman kolonial, penetapan hari jadi Provinsi Jawa Barat ini baru disahkan melalui Perda Nomor 26 Tahun 2010 tentang Hari Jadi Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Mungkin karena bertepatan dengan lebaran Idul Fithri 1433 H/2012 M, peringatan HUT Jabar kali ini tidak semeriah tahun lalu. Lalu, apa komentar dan pandangan Sesepuh Jawa Barat, Tjetje Hidajat Padmadinata tentang Jawa Barat dulu, kini dan mendatang?

Berikut ini petikan wawancara reporter Jabartoday.com, Fahrus Zaman Fadhly dengan tokoh tiga zaman tersebut, Sabtu (18/8/2012)  .

Kang Tjetje, Bagaimana pandangan akang melihat Jawa Barat dulu dan sekarang?

Sebelum Indonesia merdeka pada 1945, Propinsi Jawa Barat itu sudah berdiri. Kalau melihat Jawa Barat pasca merdeka, saya melihat tidak ada prestasi yang luar biasa yang diraih. Tidak ada atau tidak banyak keluarbiasaan. Tidak ada sesuatu yang membanggakan. Tapi, di zaman revolusi fisik, terutama di awal-awal jelang kemerdekaan,  Jawa Barat menorehkan prestasi sejarah luar biasa yakni terbentuknya Divisi Militer Siliwangi– yang oleh pengamat asing disebut-sebut sebagai Divisi Militer paling tangguh di Indonesia. Tentu, tidak semua prajurit yang tergabung dalam Divisi Militer Siliwangi adalah orang Sunda atau Jawa Barat, tetapi dari sejumlah daerah di Tanah Air.

 

Jadi, dari dulu Urang Sunda itu inklusif ya kang?

Benar. Panglima Divisi Militer Siliwangi I sendiri adalah orang Batak, yakni Abdul Haris Nasution (pahlawan revolusi, red). Dari dulu orang Sunda itu mudah menyesuaikan diri dengan ke-Indonesia-an. Faktor Bandung sebagai kota Pendidikan sudah terbiasa  bersikap inklusif.

Pada era 20-30an, Bandung melahirkan tokoh sekaliber Bung Karno, alumni ITB yang menjadi tokoh sentral revolusi Indonesia, yang membawa Indonesia ke gerbang kemerdekaan. Pada era 45-48-an, ditandai dengan terbentuk Divisi Militer Siliwangi yang anggotanya plural.

Nah, saat ini saya menilai Jawa Barat sedang mengalami krisis identitas yang luar biasa.

 

Krisis identitas yang dimaksud dalam hal apa, kang?

Anda bisa tengok sejarah, pada tahun 50-an lahir gerakan Sunda yang didorong oleh sikap mempertahankan harga diri dan kehormatan. Urang Sunda mempertahankan prinsipnya dengan berdialog secara sejajar dengan Jakarta. Ini bukan soal kalah menang. Ini soal harga diri dan kehormatan. Ini soal dignity, soal marwah kita sebagai orang Jawa Barat, yang paling tahu apa yang harus dikerjakan.

Pada tahun 60-70-an, Jawa Barat berani dan mampu meyakinkan ibukota Jakarta, bahwa Jawa Barat perlu orang kuat dan perlu mencari dan menentukan sendiri siapa gubernur yang tepat untuk Jawa Barat kala itu. Jadi, dari dulu orang (tokoh-tokoh) Bandung itu tidak pernah “minta restu” pada pusat atau Jakarta. Kita memiliki pendirian sendiri, prinsip kita sendiri. Karena sikap yang teguh itu, Jakarta menghormati aspirasi politik tersebut.

Kendati begitu, dari sikap teguh itu, tidak pernah ada konflik antara Bandung dan Jakarta.

Namun, apa yang kita lihat saat ini. Saya tidak pernah mendengar ada elit partai yang tidak “minta restu” dari Jakarta. Ini menunjukkan elit-elit partai itu tidak “pede”, kurang punya harga diri dan kehormatan.

 

Lalu, bagaimana akang melihat kepemimpinan Jawa Barat sekarang ini?

Saya melihat Ahmad Heryawan ini biasa-biasa saja. Tak ada prestasi yang luar biasa. Kalau dinilai antara 6-7 saja. Tidak menonjol dan juga tidak jeblok. Ya, biasa-biasa saja. Padahal untuk membangun Jawa Barat ke depan, kita perlu orang yang luar biasa.

 

Kira-kira sosok pemimpin Jabar ke depan harus memenuhi kriteria apa saja?

Saya kira tipologi pemimpin Jabar 2013-2018 mendatang haruslah memiliki sejumlah kriteria dasar.

Pertama, harus memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang manajemen pemerintahan.

Kedua, menghayati bahwa sekarang ini ada riak-riak kebangkitan budaya Sunda. Salah satunya ditandai dengan munculnya Badan Musyawarah Sunda (BAMUS, red). Paguyuban Sunda juga sudah berperan bagus, langkahnya berpijak di bumi. Apalagi di bawah kepemimpinan Profesor Didi Turmudzi, Paguyuban Pasundan juga banyak berkiprah.

Ketiga, karena gubernur itu pemimpin pemerintahan, maka harus memiliki integritas dan kapabilitas dalam menjalankan roda pemerintahan. Sekarang tinggal kedewasaan masyarakat untuk memilih pemimpinnya di Pilgub 2013 nanti.

 

Jadi, dari calon yang ada siapa figur yang paling berpeluang menang?

Saya menilai, suka atau tidak suka, di luar PKS masih meraba-raba. Akang cukup ‘fair’, di era Heryawan ini tidak jeblok. Tapi, sekali lagi, tidak ada prestasi yang luar biasa di masa kepemimpinan Ahmad Heryawan ini. Heryawan hanya bisa dikalahkan oleh figur yang luar biasa. Saya tidak mendukung atau berpihak pada siapa pun. Bagi pimpinan parpol lain, tentu ini jadi cambuk agar waspada dan meningkatkan konsolidasi. Tetapi, bagi PKS sendiri bisa jadi hal ini bisa membuat mereka lengah, seolah-olah akan menang lagi.   Karena itu, partai-partai politik harus melakukan konsolidasi agar kepemimpinan mendatang bisa menghasilkan pemimpin Jawa Barat yang diharapkan rakyat.