Tekan Kemiskinan, Libatkan Koperasi

jabartoday.com/net
jabartoday.com/net

JABARTODAY.COM – BANDUNG — Hingga kini, kemiskinan masih menjadi permasalahan yang belum tertuntaskan. Data menunjukkan, sejauh ini, secara nasional, angka kemiskinan mencapai 27,73 juta jiwa. Karenanya, perlu berbagai upaya untuk meminimalisir angka kemiskinan di Indonesia.

Menurut Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawangsa, untuk menekan angka kemiskinan, perlu adanya revolusi dan inovasi kebijakan. Dia berpendapat, tidak ada salahnya, upaya menekan kemiskinan yaitu melalui pemaksimalan keberadaan koperasi. “Koperasi bisa menjadi sebuah sarana untuk menekan kemiskinan. Tapi, koperasi-koperasi yang eksis saat ini perlu pemerkuatan, baik sisi regulasi, permodalan, maupun kelembagaan,” tandas Khofifah pada Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN) di Hotel Grand Royal Panghegar, Jalan Merdeka Bandung, belum lama ini.

Khofifah mengatakan, sebanarnya, koperasi dapat berbagi kesejahteraan dan kemakmuran. Meski demikian, lanjut dia, negara ini membutuhkan koperasi yang kuat. Selain itu, lanjut dia, juga koperasi yang didukung pemerintah mulaai level pusat hingga kota-kabupaten.

Dilanjutkan, sejauh ini, masih banyak daerah yang menyatukan keberadaan koperasi dengan berbagai dinas. Umpamanya, sebut dia, menggabungkan koperasi dengan Dinas Tenaga Kerjas (Disnaker). Tentu saja, lanjut dia, koperasi-koperasi yang seperti itu menjadi tanggung jawab dinas yang menaunginya. Efeknya, ucap dia, sinergitas dan koordinasi koperasi pun tidak optimal. “Akibatnya, program-program terhambat,” tukasnya.

Padahal, tegas dia, pada masa mendatang, koperasi dapat menjadi sebuah badan atau lembaga yang mengelola masyarakat guna meningkatkan kesejahteraan. Di antaranya, membatu pencarian kerja, sistem dan manajerial keuangan, atau dalam hal permodalan, termasuk kesehatan.

Khofifah tidak membantah bahwa sampai sekarang, masih banyak koperasi yang belum ideal. Dia menjelaskan, belum idealnya koperasi itu, misalnya, dalam hal keterbatasan permodalan. Kemudian, tambah dia, dalam hal pendidikan, pengalaman, keterampilan, serta etos kerja. Hambatan lainnya, imbuhnya, terjadi secara alamiah, yaitu belum berkeinginan kuat untuk maju dan berkembang.

Melihat kondisi itu, Khofifah menyatakan, perlu adanya upaya-upaya nyata agar hambatan-hambatan tersebut teratasi. Di antaranya, perlu adanya pelatihan¬† “Itu menjadi pekerjaan rumah seluruh jajaran Dekopin,” tegasnya.

Hal lainnya, Khofifah meminta jajaran Dekopin mendata keberadaan koperasi-koperasi di Indonesia secara detil dan riil. Itu, terangnya, untuk mempermudah pemerintah memetakan potensi koperasi, sekaligus pengembangan jaringan pasar dan produknya. “Hal lain yang tidak kalah pentingnya, Dekopin adalah sebuah lembaga. Secara kelembagaan, Dekopin tidak boleh menjadi partisan salah satu partai.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, Menengah (KUMKM) Jabar, Anton Gustoni, mengungkapkan, sejauh ini, di Jabar, terdapat 25 ribu unit koperasi. Mayoritas, kata Anton, koperasi-koperasi itu dalam kondisi aktif dan sehat. “Kami senantiasa membina koperasi-koperasi. Bahkan, menjadikan koperasi sebagai subyek ekonomi di Jabar,” ucap Anton. (ADR)

Related posts