Simplifikasi Rantai Pasok Pertanian, Mahasiswa ITB Juarai PIMPI 2015

itb.ac.id
itb.ac.id

JABARTODAY.COM-BANDUNG. Pertanian di Indonesia semakin hari menghadapi semakin banyak tantangan dalam pengembangannya. Seiring dengan berkembangnya teknologi, innovator dan sociopreneur mulai kembali melirik sektor ini untuk diberdayakan. Dapat disaksikan bahwa hingga kini masih banyak rakyat Indonesia yang menggantungkan nasibnya di sektor pertanian. Oleh karena itu, agar tidak hilangĀ  dimakan zaman, petani harus didukung agar hasil usahanya tetap menjadi daya tarik utama bagi konsumen nasional.

Tiga mahasiswa program studi Perencanaan Wilayah dan Kota pun membuat inovasi lewat Pekan Inovasi Mahasiswa Pertanian Indonesia (PIMPI) 2015 yang diselenggarakan oleh Forces IPB. Mereka adalah Rizki Fadhillah, Maryam Zakkiyyah, dan Tania Benita (Perencanaan Wilayah dan Kota 2012). Dalam lomba tersebut, mereka mengajukan sebuah karya tulis berjudul “Memperbaiki Rantai Pasok Pertanian dengan Memanfaatkan Sistem Food Supply Chain Online Berbasis Pemberdayaan Komunitas Petani Lokal“. Karya tulis ini pada akhirnya berhasil meraih Juara Teronivatif di ajang nasional tersebut.

Analisis tentang Kondisi Pertanian di Indonesia

Tim menuliskan bahwa pertanian masih menjadi salah satu sektor ekonomi utama di Indonesia. “Luas lahan pertanian di Indonesia mencapai 82.71 % luas total lahan (Data Kementerian Sekretariat Negara, 2010) dengan jumlah penduduk 30,5% bermata pencaharian di sektor pertanian (Badan Pusat Statistik, 2013). Namun pada kenyataannya kemiskinan di Indonesia terpusat di wilayah perdesaan, dimana sektor ekonomi utamanya adalah sektor pertanian. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan sektor pertanian masih kurang mensejahterakan masyarakat perdesaan,” ujar mereka dalam bagian Abstrak.

Menurut penulis, hal yang menghambat peningkatan kesejahteraan masyarakat pertanian adalah masalah kelembagaan. Keterbatasan dalam kelembagaan pertanian menyebabkan tidak efisiennya rantai pasok antara produsen dan konsumen. Oleh karena itu, tim termotivasi untuk mengajukan ide teknologi tepat guna demi simplifikasi rantai pasok pertanian.

Simplifikasi Rantai Pasok Pertanian dengan Aplikasi Online

Untuk memperbaiki rantai pasok pertanian, tim mengajukan sistem food supply chain online sebagai solusi. Aplikasi ini kemudian bisa digunakan untuk memberdayakan komunitas petani lokal. Sistem kemudahan akses informasi supply-demand dirancang agar dapat dikelola langsung oleh masyarakat yang bergabung dalam komunitas petani.

Mengapa harus memberdayakan komunitas petani? Tim menuturkan, “Kurangnya sistem kolektid langsung dari para petani menimbulkan keterlibatan banyak aktor dan transaksi yang dlakukan, hal ini akhirnya berdampak pada harga produk pertanian yang tinggi dan tidak transparan. Permasalahan tersebut diakibarkan beberapa hal seperti masih kurangnya koordinasi antara produsen dan pelaku pasar dalam pengambilan produk, aksesibilitas dari tempat produksi hingga ke konsumen, kendala penyimpanan pascapanen, serta adanya tengkulak yang dapat mengatur harga pokok pangan sebelum sampai di tangan konsumen.”

Inovasi food supply chain online yang dimaksud adalah sistem pemasaran produk pertanian berbasis internet. Menurut analisis tim, sekarang konsumen nasional telah mulai beralih ketertarikannya ke gaya online shopping. Maka, komunitas petani dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memenuhi kebutuhan konsumen dengan lebih efektif dan efisien.

Salah satu hal yang menjadi perhatian khusus tim adalah meminimalkan keterlibatan “pihak-pihak” informal yang turut mengatur harga komoditas pertanian. Dengan aplikasi online, transparansi harga dapat dipertahankan sehingga kepercayaan konsumen pun meningkat. Kerugian yang sering dialami petani akibat terlalu panjangnya rantai pasok bisa ditekan secara optimal.

Semangat Berkarya

Tim mengaku sangat termotivasi untuk mengikuti kompetisi dan menyampaikan ide mereka untuk mencari pengalaman. “Selain itu, kami termotivasi pula oleh Kahim (Ketua Himpunan-red) kami yang selalu mendorong warganya untuk menebarkan kebermanfaatan dari HMP keluar HMP. Maka dengan bekal keilmuan perencanaan wilayah dan perdesaan yang kami miliki, kami inisiatif untuk mendaftar di lomba ini,” ungkap salah seorang anggota tim, Maryam. Tim belajar banyak tentang bagaimana mengemas ide dengan menarik.

Maryam mengungkapkan harapannya untuk merealisasikan ide yang telah mereka sampaikan lewat karya tulis. “Namun kami sadar butuh ilmu, kesabaran, dan waktu yang cukup lama untuk dapat mewujudkan ide ini. Harapannya ke depan, ide ini dapat direalisasikan sebagai salah satu solusi untuk perbaikan kondisi pertanian Indonesia,” tutur Maryam. (itb.ac.id)

Related posts