Selain Daging, Harga Sembako di Cirebon Stabil

  • Whatsapp
Gubernur Jabar membeli 3 kg daging ayam di Pasar Kanoman Cirebon, Kamis (26/7). (NAJIP HENDRA SP/JABARTODAY.COM)

JABARTODAY.COM – CIREBON

Memasuki hari keenam Ramadan, kondisi pasokan dan harga kebutuhan pokok di Kota Cirebon relatif stabil. Tidak ada lonjakan berarti, termasuk tempe dan tahu yang sempat dikhawatirkan banyak kalangan. Beberapa pedagang mengaku masih normal menerima kiriman barang dari produsen maupun penyalur.

Harga beras misalnya, harga masih normal pada kisaran Rp 8.000-Rp 10.000; telor ayam mengalami kenaikkan Rp 2.000 dari Rp 15 ribu menjadi Rp 17 ribu per kilogram; tahu putih naik Rp 100 dari Rp 300 menjadi Rp 400. Yang menarik, tempe tidak mengalami kenaikkan, bedanya ukuran mengecil.

“Pembeli maunya harga tetap. Untuk menyiasatinya, ukurannya yang sedikit lebih kecil,” kata seorang pedagang saat menjawab pertanyaan Gubenur Heryawan ihwal alasan mengubah ukuran tempe. Mendapat jawaban itu, gubenur pun tersenyum.

Bagaiman dengan daging? Baik ayam maupun daging sapi mengalami sedikit kenaikkan. Daging ayam pada hari keenam berkisar pada angka Rp 27 ribu per kilogram, sementara daging sapi Rp 75 ribu. Menjelang puasa lalu, harga ayam sempat menyentuh angka Rp 30 ribu, sementara daging sapi mencapai Rp 80 ribu. Pada harga normal, daging sapi sekitar Rp 70 ribu.

“Harga-harga ini masih relatif stabil. Adapun kenaikkan di bawah 10 persen, itu termasuk wajar. Awal Ramadan biasanya harga sejumlah komoditas memang mengalami kenaikkan. Demikian pula menjelang Lebaran tiba. Pasokan daging ayam maupun sapi tetap aman. Terlebih daging ayam termasuk berlebih karena Jabar merupakan pemasok ayam terbesar di Indonesia,” terang Heryawan.

Menanggapi fluktuasi harga tempe dan tahu, Heryawan hal itu tidak bisa dilepaskan dari kondisi nasional. Maklum, kedelai yang merupakan bahan baku tahu dan tempe tersebut masih mengandalkan impor. Solusi jangka pendek yang bisa diambil, imbuh Heryawan, adalah dengan memotong bea impor.

“Jangka panjangnya adalah dengan mengupayakan pangan alternatif pengganti kedelai. Sementara jangja pendeknya kita masih tergantung pada impor yang harus disiasati dengan menurunkan bea impor. Kenaikkan harga ini dipicu menurunnya produksi kedelai di negara produsen karena musim kering,” papar Heryawan.(NJP)

 

Related posts