Thursday , 2 April 2020
Home » Ekonomi » Rupiah Melemah, UMKM pun Terancam

Rupiah Melemah, UMKM pun Terancam

jabartoday.com/net
jabartoday.com/net

JABARTODAY.COM – BANDUNG — Sejak beberapa pekan terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merosot drastis. Bahkan, nilai tukar kebanggaan republik ini sempat menembus level Rp 14 ribu per dolar AS.

Tentunya, situasi seperti ini berpengaruh bagi perekonomian nasional. Tidak hanya industri dan usaha skala besar, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pun mulai terimbas dan terancam oleh kondisi terkini rupiah. “UMKM termasuk sektor yang tergolong rentan terkena depresiasi rupiah. Saat ini, banyak pelaku UMKM Jabar yang stop aktivitasnya,” tandas Wakil Ketua Kadin Bidang Kemitraan dan Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah (KUMKM) Jabar, Iwan Gunawan, belum lama ini.

Iwan berpendapat, saat ini, UMKM berada dalam posisi sulit. Hal itu, jelasnya, tida hanya dalam hal pengembangan usaha, permintaan produk pun surut. Menurutnya, hal itu terjadi karena daya beli masyarakat turun seiring dengan naiknya harga jual beragam komoditi sebagai efek pelemahan nilai tukar rupiah.

Iwan mengakui bahwa sejauh ini, di Jabar, cukup banyak pelaku UMKM yang menggunakan produk impor sebagai bagan baku. Misalnya, produk makanan berbahan baku terigu. “Gandumnya kan impor. Apalagi yang bergerak dalam bidang tekstil dan produk tekstil (TPT). Bahan bakunya, berupa kapas, juga impor. Selain itu, keramik pun bahan bakunya sebagian impor,” tukasnya.

Hal lain yang menyebabkan tidak sedikitnya pelaku UMKM Jabar yang menghentikan aktivitasnya karena terbatasnya permodalan. Terlebih, imbuh dia, perbankan memperketat penyaluran kredit, khususnya, kredit mikro. Melihat hal itu, Iwan menyatakan, pihaknya berharap pemerintah segera melakukan berbagai upaya dan langkah kongkret guna menyikapi kondisi tersebut.

Adanya ancaman depresiasi rupiah diakui Cucu Sumiati, pemilik Sprei Bubu Kaka. Cucu menuturkan, sejak menjelang Idul Fitri, harga bahan baku kain naik. Karenanya, tidak heran, apabila Cucu khawatir, harga bahan baku kembali naik dalam waktu dekat seiring dengan merosotnya nilai tukar rupiah.

Cucu berpendapat, bagi para pelaku usaha, situasi sekarang merupakan hal yang dilematis. Pasalnya, pada saat beragam harga kebutuhan naik, pihaknya sulit menaikkan harga jualnya. Itu karena, terangnya, terbentur oleh daya beli masyarakat yang melemah. (ADR)