Produk Holtikultura Butuh Perhatian Presiden

  • Whatsapp

aJABARTODAY.COM – BANDUNG Kendati produksi hortikultura sangat rentan terhadap kondisi iklim, namun hal tersebut tidak bisa dijadikan alasan tidak berkembangnya produksi hortikultura nasional. Bila pemerintah memang serius menggarap komoditas tersebut, gejolak harga yang terjadi saat ini dapat dihindari sejak awal. Demikian disampaikan Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Entang Sastraatmadja.

“Baru – baru ini harga sejumlah komoditas hortikultura melonjak seperti contohnya bawang putih, bawang merah, dan yang hingga saat ini masih tinggi, yaitu cabai rawit merah. Padahal keadaan seperti ini dapat dihindari,” katanya saat dihubungi, Selasa (2/4).

Kurang seriusnya pemerintah dinilai Entang berdampak pada kurangnya anggaran dan tidak berkembangnya teknologi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk hortikultura. “Akhirnya, komoditas tersebut menjadi sangat rentan terhadap anomali cuaca yang kerap terjadi di Indonesia. Produknya mudah rusak, produktivitas menurun, dan akhirnya harga melonjak,” keluhnya.

Kondisi ini jauh beda dengan komoditas beras yang begitu diperhatikan oleh pemerintah dari tingkat pusat hingga ke daerah. Hal itu, sambung Entang, disebabkan instruksi langsung dari presiden.

“Oleh karena itu, bila pemerintah mau dengan serius juga menggarap sektor hortikultura, mesti menunggu instruksi presiden dahulu. Sebabnya, hanya pihak tersebut yang biasanya didengarkan oleh pemerintah daerah hingga kabupaten/kota. Kalau imbauan dari tingkat kementerian biasanya tidak ditanggapi begitu serius,” ucapnya.

Entang mengamati belum keluarnya instruksi tegas dari presiden untuk secara sistematis meningkatkan produksi hortikultura dikarenakan komoditas tersebut tidak sepenting komoditas beras. “Anggapan selama ini adalah masyarakat Indonesia tidak akan mati bila tidak makan komoditas tersebut, berbeda halnya dengan komoditas beras,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, hal inilah yang akhirnya membuat produk hortikultura nasional seolah berjalan di tempat. Padahal, bila diberdayakan potensi komoditas itu sangatlah besar. “Bila berbicara anggaran pun saya yakin bila sektor ini diseriusi akan bisa ter-cover. Kalaupun tidak, kan pemerintah bisa lebih memberdayakan swasta untuk berinvestasi pada sektor tersebut,” tandas Entang.

Berdasarkan pantauan Jabar Today di salah satu pasar tradisional, yakni Pasar Kosambi Bandung. Hari ini harga cabai rawit merah masih berada di kisaran Rp 45-50 ribu/kg. (VIL)

Berita Terkait